Kawan, kesuksesan sebuah tim ditentukan oleh anggota terlemah dalam tim. Jika dia dibiarkan begitu saja maka dia akan merusak kinerja tim. Sebagus apapun tim sepak bola, jika kipernya lemah maka besar kemungkinan akan terus kebobolan. Oleh karena itu, tak ada pilihan lain kecuali harus mendukung dan mengembangkan anggota terlemah.
Hampir sama dengan tim kawan, kejayaan sebuah Negara ditentukan oleh orang-orang lemah, fakir miskin serta kaum dhuafa. Jika mereka dibiarkan, maka cepat atau lambat akan terjadi kerusakan. Orang-orang ini tidak boleh disia-siakan apalagi dibinasakan. Mereka harus dibantu dan diberdayakan. Inilah tugas mulia dalam membangun Negara. Tugas ini sangat pantas diemban oleh orang-orang terbaik. Bukan oleh orang-orang yang sudah tidak lagi punya pekerjaan. Apalagi mereka yang melakukan pekerjaan dengan setengah hati.
Wahai kawan, hampir semua orang ingin dirinya beserta negaranya maju. Tapi yang bernilai tetaplah orang-orang yang berusaha mewujudkannya. Karena itu adalah tanggungjawabnya. Tidaklah mereka melemparkan tanggungjawab itu ke pihak lain. Sungguh tidak etis jika tanggungjawab itu kemudian dilemparkan ke salah satu pihak semisal pemerintah.
Mungkin pemerintah adalah barisan pertama yang paling bertanggungjawab dalam hal ini. Tapi apakah mereka benar-benar serius menginginkan umat ini maju? Mungkin pemerintah hanya setengah hati mengurusi kaum dhuafa. Mungkin juga pemerintah tidak butuh orang-orang terbaik untuk mengurusi negeri ini. Mereka hanya butuh orang-orang yang satu kepentingan dengan mereka. Tapi ingatlah kawan, umat ini, negeri ini akan selalu butuh orang-orang terbaik untuk membangun dan terus membangun. Biarpun pemerintah memicingkan kedua matanya untuk mengurusi orang-orang miskin. Biarpun mereka lebih suka dan lebih sibuk mengurusi orang-orang kaya. Namun panggilan untuk mengurusi kaum dhuafa akan selalu tertuju kepada putra-putri terbaik negeri ini.
Umat ini butuh orang-orang berkarakter. Orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sebelum menyelesaikan orang lain. Umat ini butuh lebih banyak lagi teladan. Tidak lagi sekedar wacana. Tapi lebih banyak lagi keteladanan dan kontribusi nyata. Umat ini tidak butuh orang-orang yang mengutuki kegelapan. Orang-orang yang banyak mengeluh dan menuntut. Sungguh umat ini tidak butuh tukang keluh yang suka menuntut. Umat ini butuh orang-orang yang semangat menyalakan penerangan.
Mari kita nyalakan penerangan itu. Sekecil apapun nyala yang dihasilkan. Sekecil apapun manfaat yang dapat diterangi. Karena berbagi itu, melayani itu bahkan berkorban itu, tidaklah mengenal siapa diri kita. Dia tidak mengenal posisi dan jabatan kita. Dia tidak mengenal fasilitas atau sumber daya yang kita miliki. Dia hanya mengenal keputusan kita; MAU ataukah tidak? Mari kita lihat dari yang paling mungkin serta yang paling mudah untuk dilakukan. Maka lakukan itu!
- Buang sampah pada tempatnya, We can do it!
- Berkata yang baik atau diam, We can do it!
- Beli buku bagus untuk diberikan kepada orang miskin, We can do it!
- Cari anak yatim dan traktir dia makan, We can do it!
- Bantu orang mengangkat barang, We can do it!
Itulah sebagian contoh kontribusi kecil yang bisa kita lakukan. Ada lebih banyak lagi perilaku membangun yang lebih menyalakan umat. Ada lebih banyak lagi perilaku membangun yang lebih besar dan lebih terorganisir. Karena harapan itu masih ada. Ya, harapan itu akan selalu ada. Perubahan itu bukan lagi mimpi-mimpi kosong. Selama putra-putri terbaik terus bekerja membangun umat, maka mimpi kita akan terus menyala terang.
Pembangunan paling penting dan utama bagiku adalah pendidikan. Sesungguhnya pendidikan bukan hanya sekedar nilai raport. Akan tetapi pendidikan adalah nilai diri manusia. Nilai diri kita adalah akhlaq kita. Budi pekerti kita. Perilaku-perilaku kita. Keputusan-keputusan orang terdidik haruslah lebih bijaksana sehingga mampu membawa nasib baik untuk mereka. Perilaku-perilaku orang berilmu haruslah lebih taktis sehingga mencegah mara bahaya menimpa diri mereka. Oleh karena itu, pendidikan ini adalah investasi untuk masa depan.
Wahai kawan, ada orang kaya yang punya anak disekolahkan ke tempat yang sangat mewah. Sepulang dari sekolah ditambahkan bimbingan belajar. Belum cukup sampai di situ, malamnya didatangkan guru ke rumah untuk les privat. Orang-orang kaya itu tidak segan-segan menggelontorkan pundi-pundi hartanya untuk pendidikan anaknya. Maka apakah orang-orang kaya semacam itu yang kita layani? Ataukah mereka yang memperjuangkan pendidikan seadanya? Maka, mengapa kita bersikap lemah dan takut menghadapi tantangan?
Mengapa musti malu terhadap apa yang kita kerjakan? Sungguh pekerjaan kita bukanlah pengabdian terhadap masyarakat. Bukan pula pengabdian untuk Negara. Apalagi pengabdian untuk pemerintah. Ketahuilah kawan, pekerjaan kita adalah pengabdian kepada Sang Pencipta. Lihatlah kawan! Sang Pemelihara kehidupan tidak pernah memberatkan beban melebihi kadar kesanggupan hamba-hamba-Nya. Dia yang menciptakan maka Dia pula yang bertanggungjawab untuk memeliharanya. Tugas kita adalah membantu dan berbagi demi kualitas yang lebih baik. Atas nama-Nya, tugas dan kesulitan kita akan dibantu-Nya menjadi lebih mudah. Insya Allah.
Kecintaan kita terhadap dunia, mari kita kurangi. Sikap materialistis dan egois kita, mari kita hilangkan. Rasa takut hidup sengsara atau mati, mari kita ganti dengan semangat mengejar syahid. Jangan terlalu banyak melihat dunia kawan tapi lupa mengingat kematian. Sungguh banyak orang tertipu dunia. Jangan sampai kita mengikutinya.
Wahai kawan, aku masih percaya bahwa kita ini adalah putra-putri terbaik yang dilahirkan di negeri ini. Meskipun banyak orang mengatakan tidak. Mereka boleh mencaci maki kita, tapi jangan kita mencaci diri sendiri. Biarkan mereka berkata-kata, tapi jangan biarkan diri kita tidak bekerja!!!
Terus semangat kawan!!! Terus semangat!!!





















