Assalaamu’alaikum

17 November 2009 Nafis Mudrika 3 comments

nafis mudrika

Welcome to Nafis Mudrika Weblog : Tips Pengembangan Diri | Artikel Islam | Psikologi Sukses | Cerita Inspirasi | Sharing Motivasi

10 Artikel Terpopuler:

Apa yang membuat orang sukses?
Ada empat belas hal yang membuat orang sukses. Salah satunya adalah memutuskan untuk sukses dan mau terus belajar untuk meraih kesuksesan …

Cara Membangun Komunikasi Efektif
“Gimana ya supaya orang mau mendengarkan apa yang aku katakan? Nggak salah ngomong apalagi salah paham. Lalu mereka melakukan apa yang aku inginkan…” Pernah berfikir seperti itu? Nah, jika kamu punya masalah yang sama, kamu perlu …

Rahasia Membina Hubungan Harmonis
Ingin mempunyai hubungan yang harmonis? Yang bisa saling berbagi dan mengisi satu sama lain? Yang mampu melewati konflik secara bersama-sama? Oke, hampir semuanya mau dan hampir semuanya ingin tahu rahasianya. Sebetulnya, rahasia hubungan yang harmonis ada di

10 Rahasia Sukses
Rahasia Sukses ada 3, usaha do’a dan tawakal. Tapi untuk menyempurnakan usaha ada sepuluh rahasia kesuksesan. Pertama, tinggalkan zona nyaman Anda …

Buat Apa Kita Jatuh?
“Mengapa kita jatuh? Kita jatuh supaya kita bisa belajar untuk bangkit kembali.” Inilah pesan moral dari film Batman Begins. Kita jatuh untuk belajar bangkit kembali. Rasanya tidak seru jika super hero menang terus. Begitu juga dengan kita. Rasanya hidup kita akan terasa hambar jika kita sukses terus …

Indahnya Persaudaraan
Akhlaq seorang muslim terhadap saudaranya sungguh indah. Dalam perintah Al Qur’an dan Sunnah (Hadits) ada sembilan poin yang menunjukkan indahnya persaudaraan sesama muslim dalam ikatan ukhuwah Islamiyah …

5 Kunci Kepemimpinan
Mendapatkan jabatan formal “pemimpin” ternyata tidak lebih penting daripada menjadi “pemimpin sejati”. Sebab, pemimpin sejati itu merupakan sosok langka dan efektif di dalam memimpin manusia. Sosok pemimpin yang berpengaruh besar terhadap sukses gagalnya organisasi (team) dalam meraih tujuannya. Ada tips praktis untuk menguasai lima kunci leadership dan menjadi pemimpin yang sukses …

10 Pribadi Luar Biasa
Ada sepuluh pribadi yang mencerminkan akhlaq yang menawan. Sebaiknya Anda menguasainya satu per satu agar kepribadian Anda mengagumkan. …

Perempuan Perkasa
Ada cerita menarik sewaktu saya berada di Stasiun Jatinegara. Waktu itu masih pagi. Sekitar usai sholat subuh. Saya duduk menunggu kereta yang menuju ke Stasiun Manggarai. Kemudian, datanglah seorang ibu paruh baya yang mendekat dan duduk di sebelah saya. Sosok perempuan berkerudung itu terlihat kelelahan.

The Power of Dream
Di Oxford University, dilakukanlah penelitian jangka panjang tentang visi / cita-cita dan tingkat kesejahteraan hidup pada 300 mahasiswa. Maka, terdapatlah hasil yang sangat mencengangkan sebagai berikut; …

Categories: Sharing

Diam itu Emas atau Tahi?

25 December 2009 Nafis Mudrika Leave a comment

Diam dalam arti sikap tidak berbicara ataupun tidak bertindak ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi positif di sisi lain negatif. Atau seperti judul tulisan ini, diam dapat berarti emas tapi di lain pihak dapat menjadi tahi yang menjadi bumerang. ^ ^

Diam emas adalah diam dalam situasi yang tepat. Maksudnya, ketika kita tidak dapat melakukan perilaku atau perkataan yang baik, maka diam adalah lebih utama. Selain itu, dalam kondisi yang tidak terkontrol dan ricuh. Ketika semua orang panik dan tidak dapat berfikir jernih, seseorang perlu diam untuk mendapatkan ketenangan dan mampu berfikir jernih untuk dapat bersikap arif ^ ^

Nah, diam dalam arti kedua, yakni diam itu tahi adalah ketika seseorang melihat hal yang negatif atau kemunkaran tetapi dia mendiamkannya padahal dia punya kekuasaan untuk mengubah atau mencegah hal itu.

Sseorang pemimpin seharusnya tahu kapan dia harus bersikap diam dan kapan harus bergerak berjuang membela kebenaran. Minimal mengatakan sesuatu yang benar walaupun pahit. Seorang pemimpin yang cenderung diam padahal dia melihat masalah maka sebaiknya dia melepaskan tanggungjawabnya itu. Sebab, jika seorang pemimpin diam melihat kemunkaran, maka boleh dikatakan dia pemimpin yang lemah dan pengecut.

(Nafis Mudrika)

www.nafismudrika.wordpress.com

Categories: Sharing Tags: , , ,

2012, Game Over?

17 November 2009 Nafis Mudrika 4 comments

Ramalan, Film / Movies, Gosip, Blog, Forum dan sebagainya banyak membahas angka 2012, alias mengangkat isu hari kiamat. Apakah benar tahun 2012 bumi akan kiamat? Jawabannya adalah saya tidak tahu dan saya tidak mau percaya ramalan. Sebetulnya, ada pertanyaan penting yang mengusik hati. Mengapa banyak orang begitu peduli (baca = takut) dengan hari kiamat atau ramalan yang mengarah ke sana?

Ada hal yang menarik di sini. Kiamat dalam persepsi kita adalah bencana, akhir, kehilangan, musnah, duka dan seterusnya. Intinya semua hal yang negatif ada di sana. Oleh karena itu, banyak orang takut dan menghindarinya. Ketakutan serta kecemasan timbul ketika sikap dan persepsi kita negatif terhadap suatu objek.

Coba kalau kiamat (termasuk kematian) kita persepsikan sebagai objek yang positif serta sesuatu yang dirindukan. Tentu reaksinya akan berbeda. Bukankah dengan kiamat kita akan segera bertemu dengan Tuhan yang kita cintai? Bukankah dengan kiamat maka keadilan akan segera ditegakkan oleh Tuhan? Bukankah dengan kiamat semua penderitaan dan ketidakadilan di dunia ini akan segera berakhir? Bukankah dengan kiamat kehidupan yang abadi dan lebih baik akan segera terwujud?

Jika kita masih takut dan mencemaskan bencana, kematian serta hari kiamat, maka kita harus introspeksi diri. Sebab ada kemungkinan bahwa kita masih cinta dunia dan takut mati. Yang kedua, kita belum siap mati karena merasa punya banyak dosa. Ketiga, kita tidak punya cukup iman dan bekal amal. Nah, bukankah sekarang ini kita masih punya waktu untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan hari akhir?

(Nafis Mudrika)

Categories: Sharing Tags: , ,

3 Hal yang harus ditinggalkan agar Hidup Efektif

17 November 2009 Nafis Mudrika 1 comment


Kita sering salah mengambil keputusan dan menyesal belakangan. Sebab, kita tidak memperhatikan lingkungan sekitar dengan baik. Ada banyak tawaran, peluang serta kesempatan yang datang kepada kita. Kita pun harus memilih antara ya dan tidak. Apakah tawaran tersebut kita terima ataukah kita tolak. Nah, jika kita ingin hidup efektif dan tidak menghabiskan banyak waktu untuk hal-hal yang kurang berguna, sebaiknya kita meninggalkan tiga perkara berikut ini:

1. Ketidakjelasan
Aktifitas iseng atau semua aktifitas yang tidak jelas tujuannya, prosesnya, ataupun hasilnya sebaiknya ditinggalkan. Hal-hal yang serampangan ini dapat ditinggalkan dengan dua cara. Pertama, langsung meninggalkannya. Kedua, meninggalkan ketidakjelasan dengan jalan memperjelasnya. Tetapkan tujuan yang pasti dari aktifitas tersebut, rencanakan dengan matang serta kurangi ketidakjelasan dengan mencari informasi tambahan. Dengan demikian, kita hanya akan melakukan sesuatu yang punya niat dan tujuan yang pasti, perencanaan yang baik, hasil yang terukur serta ilmu atau kefahaman dari aktifitas yang akan kita lakukan. Bukankah sebaik-baik spekulasi adalah pengambilan resiko dengan perencanaan serta perhitungan yang matang? Bukan untung-untungan seperti dalam judi.

2. Keraguan
Jika kita menghadapi sesuatu yang membuat hati kita ragu, sebaiknya kita tinggalkan. Sama seperti ketidakjelasan, kita dapat meninggalkannya secara langsung ataupun menghilangkan keraguan dengan cara meyakinkan diri untuk melakukan hal tersebut. Jika semua aktifitas kita lakukan dengan penuh keyakinan, tentu hasilnya akan jauh lebih maksimal. Namun jika ragu, peluang suksesnya akan lebih kecil.

3. Kesia-siaan.
Hal yang sia-sia (tidak bermanfaat) atau manfaatnya sedikit, sebaiknya juga ditinggalkan. Mengapa harus repot-repot melakukannya jika tidak terlalu bermanfaat, khususnya bagi diri kita?

Nah, itulah tiga hal yang jika ditinggalkan akan membuat hidup kita menjadi lebih sederhana, efektif serta tidak membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berguna.

(Nafis Mudrika)

5 Mental Polisi & Citra Negatif Polri

17 November 2009 Nafis Mudrika Leave a comment

Mayoritas rakyat sudah tidak lagi percaya terhadap polisi. Apalagi setelah kasus kriminalisasi KPK. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, banyak rakyat cenderung memandang negatif polisi. Persepsi masyarakat yang buruk terhadap polri ini bisa dimaklumi. Boleh dikatakan, ini puncak kekecewaan rakyat terhadap sikap polisi selama ini.

Tulisan ini bukan untuk memojokkan posisi polri. Sebaliknya, tulisan ini adalah harapan dan cinta rakyat agar polisi Indonesia semakin baik dan profesional.

Nah, kembali ke tulisan awal, jika saya ditanya mengapa saya kecewa dan memandang negatif polisi, itu karena persepsi saya terhadap mental polisi sudah terlanjur negatif. Berikut beberapa mental negatif yang harusnya segera diperbaiki:

1. Mental suap: ada uang, semua urusan beres
Perhatikan bagaimana proses rekrutmen polisi. Bukankah sudah menjadi rahasia umum kalau ingin menjadi polisi harus membeli “tiket masuk” alias suap? Dengan proses rekruitment yang buruk ini tentu berimbas pada minimnya orang jujur dan berintegritas di tubuh polri. Bagaimana mereka hendak menegakkan kebenaran dan keadilan sementara mereka sendiri bukan termasuk orang-orang yang benar dan adil?

Perhatikan pula proses mendapatkan SIM (Surat Izin Mengemudi). Jika polisi ingin bersih dari mental ini, seharusnya mereka tidak memperbolehkan pembelian SIM (nembak/suap) tanpa ujian. Yang terjadi sekarang ini adalah: Polisi berburu pengemudi tanpa SIM (rakyat dipaksa harus punya SIM), rakyat dipersulit mendapatkan SIM dengan proses yang benar (ujian), & sebaliknya dengan cara menyuap cenderung dipermudah.

Dengan demikian, bukan hanya membudayakan suap di kalangan internal saja, polri juga mendidik rakyat bermental suap. Nah, kalau suap-suap kecil ini dianggap biasa dan menjadi budaya, tentu tidak heran jika suap besar untuk melakukan konspirasi dan fitnah bisa diterima begitu saja.

2. Manipulatif
Entah berapa banyak orang yang sebenarnya tidak bersalah dipaksa oknum polisi untuk mengaku salah. Mereka bahkan diancam dan disiksa jika tidak mengakui sesuatu yang sebenarnya bukan kesalahannya. Ada keluarga saya yang jadi korban mental polisi yang satu ini. Orang yang tidak bersalah tetapi dipaksa untuk mengaku salah. Ini adalah kejahatan teror dan fitnah yang kejam.

3. Yes Man
Menjadi Yes Man pada atasan atau asal taat tanpa pertimbangan nurani dan pikiran jernih kadang menjengkelkan juga. Saya melihat polisi berada dalam strata sosial yang berkelas-kelas. Keutamaan seorang polisi seolah-olah ditentukan oleh pangkat dan jabatannya. Polisi kelas rendahan harus taat pada polisi kelas atas. Walaupun perintahnya kadang tidak benar. Ujung-ujungnya beberapa polisi mengalami konflik bathin dan akhirnya menyerang atasan serta menjadi pemberontak yang menakutkan.

4. Angkuh dan Arogan
Menjadi polisi berseragam memang tampak gagah, berkuasa, punya kekuatan dan sangat berwibawa sekali. Tapi itu bukan alasan untuk bersikap angkuh, sombong, arogan dan mau menangnya sendiri. Sebab, dengan keangkuhan, manusia sebetulnya akan jatuh dan dengan kerendahan hati, manusia akan diangkat. Bukankah seiring dengan kekuatan (kekuasaan) yang besar terdapat tanggungjawab yang besar? Ini kata-katanya spiderman lho ^ ^

5. Pelit Senyuman
Saya sebetulnya merindukan polisi (terutama polisi lalu lintas) yang murah senyum. Polisi yang melayani dengan tulus dan terpancar kebahagiaan dari wajahnya. Melindungi masyarakat dan bahagia dengan pekerjaannya itu. Bukan pasang tampang kaku, serem dan menakutkan. Kalau sama penjahat sih urusannya lain, tapi kalau sama masyarakat itu namanya keterlaluan.

Itu persepsi negatif saya terhadap polri. Saya harap lima tahun dari sekarang persepsi ini berubah. Polisi baik yang sekarang minoritas akan menjadi mayoritas ke depannya. Semoga polri menjadi pahlawan seperti yang ada di film – film Hollywood. :)

(Nafis Mudrika)