Sharing

Emosi, Faktor Penentu Kesuksesan


Pak Tung Desem pernah bilang, “Kebanyakan manusia ingin sukses supaya bahagia, padahal hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang bekerja dengan bahagia akan lebih berpeluang untuk sukses daripada mereka yang tidak.”

Rasanya ucapan Pak Tung ini sangat powerfull. Saya kira emosi memang salah satu faktor terpenting dalam mempengaruhi kinerja dan produktifitas seseorang dalam bekerja. Sebagus apapun potensi seseorang, kalau emosinya labil, pastinya akan sulit untuk diharapkan. Apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang sangat cerdas namun pemarah, mau menangnya sendiri, malas-malasan, angin-anginan, penakut, mudah putus asa, dan bekerja dengan wajah cemberut sepanjang tahun?

Boleh jadi karena emosinya yang labil, dia akan mengambil keputusan-keputusan yang salah dalam perkara-perkara penting. Alasannya hanya karena ego ataupun harga diri. Harus menjalin metworking dengan relasi yang penting tidak bisa dilakukan karena dia tidak mampu memaafkan seseorang. Sebuah proyek strategis tidak bisa dituntaskan hanya karena dia merasa tidak suka dengan proyek itu ataupun karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Sesuatu yang seharusnya dia lakukan, ternyata tidak dilakukan hanya karena idealisme yang subjektif dan egois.

Memang tidak dibenarkan juga menjadi tipe pekerja “yes man” atau bekerja seperti robot. Sebab, hasil pekerjaannya juga hanya”standar” alias biasa-biasa saja. Oleh karena itu, perlu disuntikkan emosi positif seperti “bahagia” agar kita dapat bekerja dengan lebih dahsyat. Emosi positif itulah yang membuat kita bersemangat dan termotivasi.

Biasanya upaya menyuntikkan emosi positif ini merupakan tugas divisi HRD / SDM di sebuah perusahaan. Sayangnya, beberapa perusahaan justru dihantui oleh rumor-rumor tidak sedap yang membuat emosi karyawannya menjadi negatif. Ini adalah malapetaka yang besar jika terjadi dalam perusahaan. Rumor-rumor tidak sedap itu biasanya terjadi karena kebijakan-kebijakan yang salah dan tidak adil, pelanggaran hak asasi manusia, ataupun karena kegagalan dari pihak manajemen dalam memanusiakan karyawannya. Akhirnya, Divisi HRD tidak mampu melakukan tugas ini dengan efektif. Jadi sangat sulit jika kita harus mengharapkan suntikan emosi positif dari pihak luar. Idealnya, kita sendiri punya kecerdasan emosi dan stabilitas emosi yang bagus sehingga tidak mudah untuk dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Bahkan kalau bisa justru mampu mengubah kondisi emosi lingkungan kita.

Nah, pertanyaannya adalah bagaimana menumbuhkan emosi positif itu secara mandiri? Satu hal yang perlu dicatat, banyak dari kita faham, bahkan hafal tentang teori-teori semacam ini ataupun beberapa konsep seperti kecerdasan emosi (Emotional Quotient/EQ). Tapi hanya sedikit dari kita yang “mampu” menerjemahkan “gizi kognitif” tersebut menjadi “nutrisi emosi” yang dibutuhkan oleh sisi emosional. Sebagian lagi tidak mampu menerjemahkan “gizi kognitif” menjadi “penggerak anggota tubuh (perilaku).”

Merasakan emosi positif tidak gampang apalagi menumbuhkannya dalam hati kita. Kebahagiaan, ketenangan, ketenteraman, kemantapan jiwa, cinta kasih dan emosi positif lainnya sangat erat kaitannya dengan sisi spiritual. Seseorang yang dihantui rasa berdosa karena makan harta haram, melakukan perbuatan-perbuatan haram, berbuat dzalim, akhlaq tercela dan semacamnya pastilah emosinya akan bermasalah. Bahkan bagi mereka yang tetap melakukannya namun merasa tidak berdosa karena hatinya sudah mati.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah “Jika anda ingin hati merasa tenang dan bahagia, maka lakukan kebaikan-kebaikan secara terus-menerus meskipun ukurannya hanya kecil. Tapi jika anda ingin merasa gelisah dan emosional sepanjang waktu, maka lakukan keburukan-keburukan secara kontinyu meskipun hanya kecil. Hati anda akan menentukan emosi anda, sikap anda, dan selanjutnya menentukan proses pekerjaan anda yang kemudian menentukan hasil kerja ataupun nasib anda!”

Jadi, tersenyumlah dan berbahagialah! Bukankah tersenyum adalah salah satu kebaikan kecil yang bisa anda lakukan sekarang? Berbagilah dan tolonglah sesama, meskipun anda hanya akan mendapatkan ucapan terima kasih dari sisi materi. Namun manfaat spiritual dan psikologisnya sangat terasa. Minta maaflah dan maafkanlah kesalahan-kesalahan orang-orang di sekitar anda. Anda punya kuncinya sekarang. Berbahagialah dan bekerjalah dengan lebih antusias, lalu rasakan perbedaannya!

Nafis Mudrika, S.Psi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s