Sharing

5 Hambatan Mental


Perubahan pada diri kita tidak akan terjadi jika kita hanya menginginkannya. Perubahan pun tidak akan terjadi jika kita hanya mengatakannya. Namun perubahan itu baru akan terjadi jika sudah ada tindakan nyata. Kita harus melakukan sesuatu yang benar untuk dilakukan.

Namun di dalam perjalanannya kita sering terjangkiti rasa malas dan tidak disiplin. Biasanya ini terjadi karena kita mempunyai 5 hambatan mental. Hambatan-hambatan tersebut adalah:

Takut Gagal

“Bagaimana jika gagal?” Pikiran kita bekerja keras untuk menjawab kemungkinan-kemungkinan terburuk dari kegagalan yang mungkin saja dialami. Karena manusia itu cerdas, maka jawaban dari apa yang dipikirkan bisa sangat beragam. Bayangan-bayangan kegagalan itu akan menimbulkan perasaan yang tidak enak mulai dari rasa malu sampai dengan takut. Nah, kalau perasaan kita sudah negative biasanya kita memutuskan untuk tidak melakukannya.

Fokus! Ganti pertanyaannya !!!

Coba jawab pertanyaan berikut untuk kita pikirkan pertama kali. “Bagaimana jika berhasil?” Apakah kita sudah siap untuk sukses? Coba bayangkan kemungkinan-kemungkinan yang menyenangkan dan manfaat-manfaat yang dirasakan ketika kita berhasil melakukannya. Bayangan keberhasilan akan menjadi tujuan (goals) yang memotivasi kita.

Kedua, cobalah untuk memikirkan seribu cara untuk mencapainya. Cari jalan terbaik yang paling efektif dan efisien. Cari alternative dan kemungkinan-kemungkinan lain yang tak terbatas. Jika kita tidak mendapatkan seribu cara, (katakanlah hanya tujuh), maka itu sudah cukup untuk dicoba satu per satu. Bahkan jika kita hanya menemukan satu jalan, maka kita pun dapat menempuh jalan tersebut.

Takut Ditolak

Apakah kita pernah menolak seseorang? Jika ya, apakah kemudian kita menilai bahwa orang yang kita tolak itu ‘looser’ selamanya ??? Jawabannya adalah tidak atau jarang ada orang yang menilai seperti itu. Bahkan sering kita alami kondisi di mana kita menolak orang lain bukan karena dia itu tidak pantas. Akan tetapi lebih disebabkan keterbatasan dari pihak yang menolak. Jadi, seseorang yang ditolak itu tidak akan mengurangi harga dirinya. Jika kita merasa biasa dengan menolak maka ketika kita ditolak seharusnya perasaan kita juga biasa saja. ^ ^ Hampir semua manusia pernah ditolak (dan menolak), betul?

Kita memang butuh untuk diterima orang lain. Namun, sangat sering kita tidak menerima diri sendiri. Syukuri dulu apa yang ada dalam diri. Mari kita belajar untuk menerima diri sendiri. Kemudian belajar menerima orang lain. Dan ingat, jangan sibukkan diri dengan usaha agar diterima orang lain. Termasuk menghindari penolakan. Namun sibukkan diri dengan usaha agar Tuhan mau menerima kita, right?

Tidak Mungkin

“Hal itu tidak mungkin bagiku!” Benarkah? Kebanyakan dari kita berfikir (atau berkata) ‘tidak mungkin’ sebelum mencoba melakukan sesuatu. Bahkan, kita sering memberi komentar kepada orang lain ”Hal tersebut tidak mungkin berhasil” “Terlalu sulit untuk dilakukan” Cobalah untuk menghargai ide orang lain. Jangan katakan tidak mungkin sebelum ide itu dilakukan lalu dievaluasi. Kemudian yang lebih penting, cobalah untuk tidak mematikan ide sendiri dengan membisikkan kata ‘tidak mungkin’ pada hati kita. Semuanya mungkin jika sesuatunya memang pantas untuk kita sandang, betul?

Menunggu Sempurna

Seandainya kita berada di supermarket lalu diminta untuk mengambil satu baju paling bagus dengan syarat : “kita harus terus berjalan maju dan tidak boleh kembali ke belakang”, maka apakah kita akan mendapatkan baju paling sempurna alias paling bagus? Mungkin kita sudah mendapatkan baju sangat bagus di rak tengah. Namun kita akan berfikir kalau di etalase depan kemungkinan ada yang lebih bagus lagi. Lalu kita meninggalkannya dan berharap akan ada yang lebih bagus lagi. Ternyata, baju yang di depan tidak lebih bagus dari yang di tengah. Kita pun tidak mendapatkan apa-apa. Untungnya, pihak supermarket tidak melarang kita untuk kembali ke tengah dan mengambil baju paling bagus yang tadi kita lihat.

Sayangnya, hidup ini tidaklah seperti mencari baju di supermarket. Tuhan tidak mengizinkan kita untuk kembali ke masa lalu guna mengambil kesempatan yang telah kita lepas. Jadi, hiduplah saat ini, lihat kemungkinan yang ada, lalu manfaatkan semua kesempatan di depan mata. Kesempurnaan adalah untuk diciptakan dan dipoles, bukan untuk ditunggu, right?

I Don’t Care

“Emang gue pikirin?” “Emang penting ya buat gue?” Hah… kalau pertanyaan ini yang muncul di kepala, maka sebaiknya elo pergi ke kuburan lalu teriak kepada seluruh penghuninya. “Gue nggak peduli hidup gue berantakan! Gue juga nggak masalah kalau gue mati masuk neraka. Emang gue pikirin?” Maka jangan heran kalau penghuni makam menjawab, “Gue juga kagak peduli dengan hidup lo. Gue hanya peduli dengan diri gue sendiri. Gue ingin kembali hanya untuk sedikit lebih peduli terhadap hidup gue. Mau bertukar tempat?“ ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s