Akhlaq · Hikmah

Hawa Nafsu vs Ikhlas


Ada yang mengatakan bahwa sukses berarti kaya, memiliki banyak uang, sejahtera, populer, memimpin, dihormati, berprestasi, hidup dengan orang yang dicintai serta memiliki banyak hal yang mengagumkan. Sukses juga berarti mendapatkan apa saja yang kita inginkan. Lalu mereka berfikir bahwa mereka akan puas dan bahagia setelah mendapatkan kehidupan seperti itu.

Jika hal di atas yang ada di pikiran kita, lalu apa bedanya kita dengan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu? Bukankah hati ini tidak akan pernah puas saat kita memperturutkan hawa nafsu?

Perhatikanlah ciri-ciri orang stres dan bermasalah! Bukankah mereka mengangankan kehidupan dunia yang ideal seperti itu? Namun kenyataan tidak semudah apa yang dipikirkan. Lalu mereka melarikan diri dari masalah dan kenyataan. Saat mereka miskin seolah mereka tidak berhak untuk bahagia. Saat mereka sakit, mereka pun tidak mau berbahagia. Saat mereka gagal, mereka juga merasa sangat sedih. Bukankah mereka telah membuat masalah dengan diri mereka sendiri?

Bagaimana dengan orang yang kaya tapi merasa tidak bahagia? Ada orang yang telah menetapkan cita-cita tinggi lalu melampauinya dan memperoleh keberhasilan professional yang luar biasa. Namun ternyata dia mengorbankan kehidupan pribadi, keluarga serta masyarakatnya. Dia merasa berantakan dalam menjalani kehidupan keluarga dan sosialnya. Dia merasa sakit hati dan kehilangan makna dalam hidupnya. Dia begitu mengagumkan di luar, akan tetapi rapuh di dalam. Ternyata, setiap orang punya masalahnya masing-masing.

Tidakkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Saat hawa nafsu dipertuhankan, ternyata tidak pernah membawa kepuasan dan kebahagiaan. Saat kecintaan terhadap dunia menggelapkan hati, ternyata orang melupakan nikmat hidup yang sesungguhnya. Betapa banyak orang yang menderita karena popularitasnya. Betapa banyak orang merasa tidak tenang karena kekayaannya. Betapa banyak orang terbebani karena prestasi dunia dan posisinya. Lalu, buat apa kita bermegah-megahan di dunia ini? Sungguh, hawa nafsu membuat hati kita menjadi lalai, sakit dan sesat.

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,

sampai kamu masuk ke dalam kubur.

(QS. At Takaatsur 1-2)

Mulai dari sekarang, taklukkan hawa nafsu yang ada pada diri kita! Kendalikan segala macam ambisi untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dunia yang fana. Kendalikan ego kita untuk mementingkan diri sendiri, memaksakan kehendak, bersikap sombong, mau menang sendiri dan semacamnya. Kendalikan rasa marah, rasa benci, rasa tidak adil, rasa takut, rasa kecewa, dan emosi negatif lainnya. Dengan begitu kita bisa mengendalikan diri sendiri dengan bijak.

Lalu isilah hati ini dengan kecintaan terhadap Allah. Barang siapa yang berpaling dari rasa cinta kepada Allah, dzikir kepadaNya, dan rindu terhadap perjumpaanNya, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya dengan rasa cinta kepada selainNya. Cobaan cinta itu bisa berupa kecintaan terhadap dunia, berhala, harta, uang, hawa nafsu, wanita, bisnis, kedudukan, jabatan atau hal-hal yang lebih rendah daripada itu. Sungguh, seseorang adalah budak dari apa yang dicintainya. Hingga keimanan tidak akan sempurna jika kita masih diperbudak oleh dunia dan hawa nafsu.

Islam telah mengajarkan kepada kita untuk mencintai Allah dan RasulNya melebihi cinta kita terhadap apapun. Islam mengajarkan kita untuk mencintai suatu perkara yang dicintai Allah. Mencintai sesuatu karena Allah dan dalam ketaatan kepadaNya. Sebab kecintaan kepada Allah-lah yang akan membawa kita kepada kesuksesan sejati.

Maka bersabarlah karena Allah mencintai orang-orang yang sabar. Maka bersyukurlah karena Allah juga mencintai orang-orang yang bersyukur. Maka istiqomahlah karena Allah mencintai seorang mukmin yang istiqomah. Maka beramal sholehlah karena Allah mencintai hambaNya yang taqwa dan beramal sholeh. Maka menuntut ilmulah karena Allah mencintai orang yang menutut ilmu yang bermanfaat. Maka berbagilah karena Allah menyukai orang yang demikian itu. Maka berakhlaqlah yang baik karena Allah mencintai hambaNya yang berbuat baik. Maka serulah kebajikan dan cegahlah kemunkaran karena Allah mencintai hamba-hamba yang menolong agamaNya. Maka memberilah manfaat yang sebanyak-banyaknya karena Allah mencintai hamba-hamba Allah yang menebarkan manfaat.

Bukankah hati yang diliputi oleh kebahagiaan, ketenangan serta kepuasan hanya berada pada orang yang mencintai Alloh dan RasulNya, beriman dan istiqomah atas keimanannya, melakukan ketaatan kepada Alloh dan RasulNya, mempunyai ilmu yang bermanfaat, dihiasi akhlaq mulia, senantiasa beramal sholeh, bersabar saat diuji, bersyukur saat diberi nikmat, beramar ma’ruf nahi munkar, menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa, senantiasa berbagi dan membawa manfaat untuk sekalian alam?

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik” (QS. Al-Hasyr 19)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s