Muslim Indonesia

“Kelebihan orang Indonesia adalah lebih mirip kepada ahlul Madinah, orang yang hatinya lapang dalam menerima agama Islam. Mereka orang Madinah begitu rindu pada Rasulullah, kalian punya sifat yang tidak jauh dari ini,”

Habib Muhammad Al-Junaid ~ Ulama Yaman

“Kami datang ke Indonesia untuk mengecek kondisi umat Islam di Indonesia saat ini, saya kagum dan bangga, sepanjang perjalanan tour dakwah dari mulai Jawa Timur, Jawa Barat hingga Jakarta, dan seluruh Indonesia pada umumnya Subhanallah wal Hamdulillah disini penuh keramahan, santun dan penuh kedamaian, seperti apa yang dibawa oleh para ulama yang pertama kali mendatangkan Islam ke Indonesia beberapa abad silam. Mereka datang bukan dengan senjata, mereka datang bukan dengan kekerasan, mereka datang membawa cahaya kehidupan.

Kekuatan Islam yang santun dan penuh kedamaian di Indonesia ini perlu dipertahankan. Jangan sampai Indonesia seperti Suriah, Irak, Mesir, Yaman, Tunisia, Libya, dan negeri-negeri Muslim lain yang penuh dengan konflik dan perpecahan.

Di negara-negara tersebut terjadi pertikaian sampai menghalalkan darah sesama muslim. Mereka jatuh dan hancur akibat masing-masing membanggakan diri, menyalahkan, menyesatkan, mengkafirkan sesama muslim, dan melecehkan darah umat Islam. Ditambah lagi adu domba dari orang-orang yang membuat seolah-olah Islam agama teroris dan agama yang berbahaya.”

Habib Abu Bakar al-Adni ~ Ulama Yaman

“Wahai saudaraku yang mulia di Indonesia, negeri yang penuh dengan keberkahan, yang penduduknya mencintai Islam, lalu memeluk Islam juga karena cinta terhadap agama ini. Mereka merasa kagum dengan akhlak mulia yang mereka temukan dalam Islam, serta sifat-sifat terpuji kaum Muslimin yang bersosialisasi dengan mereka. Suatu fakta yang meniscayakan Indonesia menjadi negeri Muslim terbesar, dengan penduduk dan luas teritorialnya.

Saya temukan pada diri kalian kemurnian fitrah dan akhlak baik, sesuatu yang menjadikan saya sangat cinta pada negeri ini dan penduduknya. Saya merasakan, penduduk Indonesia berhasil merepresentasikan kejernihan bersikap yang dibutuhkan oleh banyak bangsa-bangsa Muslim.

Umat Islam saat ini membutuhkan keteguhan dalam berpegang diri pada Islam yang benar, yang jauh dari propaganda yang mereduksi kebenaran ajarannya. Umat Islam perlu mempraktikkan semua petuah yang sementara ini hilang dari benak kita. Padahal itu adalah inti syariat dan dasar agama kita. Jika tidak, maka bahaya mengancam umat dan akan menghancurkannya.”

Syaikh Dr. Muhammad Taufiq ~ Ulama Syam (Suriah) putra Syaikh Ramadhan Al Buthi

Setiap kali saya berkunjung ke Indonesia, selalu saya dapati bahwa Indonesia selalu makin baik dari pada sebelumnya. Saya mendapati fakta bahwa Indonesia selalu lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya. Ini adalah negeri yang paling saya cintai, negeri yang menempati hati saya, dan karena itu saya selalu berdoa agar negeri Indonesia ini atas izin Allah swt akan memainkan peran yang lebih penting dari pada sebelumnya.

Dr. Yusuf Al Qaradhawi ~ Mufti Qatar

“Kami optimis, di sini ada ratusan juta orang Islam yang berdiri di belakang kami. Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa pembebas Al Aqsha bukanlah orang Arab. Sholahuddin Al Ayyubi orang Kurdi. Saya berharap dari Indonesia ada yang bisa membebaskan Palestina.

Sebagaimana jika Masjidil Haram dijajah, maka akan menjadi kewajiban umat seluruh dunia untuk membebaskannya. Yang menjaga Islam kebanyakan juga bukan orang Arab. Al Ghazali bukan Arab, Abu Hanifah bukan orang Arab. Imam Al Qurtubi bukan orang Arab. Bahkan para perawai hadits kebanyakan bukan orang Arab. Ini karena dalam Islam Allah tidak membedakan antara orang Arab dengan ‘Ajam (non Arab). Orang dibedakan atas dasar ketaqwaannya.”

Syaikh Dr Ali Al Abbasi ~ Imam Masjid Al Aqsha

Suatu saat kami duduk di Masjid Jogokariyan, di hadirat Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah, Wakil Ketua Rabithah ‘Ulama Palestina. Kami katakan pada beliau, “Ya Syaikh, berbagai telaah menyatakan bahwa persoalan Palestina ini takkan selesai sampai bangsa ‘Arab bersatu. Bagaimana pendapat Anda?”

Beliau tersenyum. “Tidak begitu ya Ukhayya”, ujarnya lembut. “Sesungguhnya Allah memilih untuk menjayakan agamanya ini sesiapa yang dipilihNya di antara hambaNya; Dia genapkan untuk mereka syarat-syaratnya, lalu Dia muliakan mereka dengan agama & kejayaan itu.”

“Pada kurun awal”, lanjut beliau, “Allah memilih Bangsa ‘Arab. Dipimpin Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, & beberapa penguasa Daulah ‘Umawiyah, agama ini jaya. Lalu ketika para penguasa Daulah itu beserta para punggawanya menyimpang, Allahpun mencabut amanah penjayaan itu dari mereka.”

“Di masa berikutnya, Allah memilih bangsa Persia. Dari arah Khurasan mereka datang menyokong Daulah ‘Abbasiyah. Maka penyangga utama Daulah ini, dari Perdana Menterinya, keluarga Al Baramikah, hingga panglima, bahkan banyak ‘Ulama & Cendikiawannya Allah bangkitkan dari kalangan orang Persia.”

“Lalu ketika Bangsa Persia berpaling & menyimpang, Allah cabut amanah itu dari mereka; Allah berikan pada orang-orang Kurdi; puncaknya Shalahuddin Al Ayyubi dan anak-anaknya.”

“Ketika mereka juga berpaling, Allah alihkan amanah itu pada bekas-bekas budak dari Asia Tengah yang disultankan di Mesir; Quthuz, Baybars, Qalawun di antaranya. Mereka, orang-orang Mamluk.”

“Ketika para Mamalik ini berpaling, Allah pula memindahkan amanah itu pada Bangsa Turki; ‘Utsman Orthughrul & anak turunnya, serta khususnya Muhammad Al Fatih.”

“Ketika Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah ini berpaling juga, Allah cabut amanah itu dan rasa-rasanya, hingga hari ini, Allah belum menunjuk bangsa lain lagi untuk memimpin penjayaan Islam ini.”

Beliau menghela nafas panjang, kemudian tersenyum. Dengan matanya yang buta oleh siksaan penjara Israel, dia arahkan wajahnya pada kami lalu berkata. “Sungguh di antara bangsa-bangsa besar yang menerima Islam, bangsa kalianlah; yang agak pendek, berkulit kecoklatan, lagi berhidung pesek”, katanya sedikit tertawa, “Yang belum pernah ditunjuk Allah untuk memimpin penzhahiran agamanya ini.”

“Dan bukankah Rasulullah bersabda bahwa pembawa kejayaan akhir zaman akan datang dari arah Timur dengan bendera-bendera hitam mereka? Dulu para ‘Ulama mengiranya Khurasan, dan Daulah ‘Abbasiyah sudah menggunakan pemaknaan itu dalam kampanye mereka menggulingkan Daulah ‘Umawiyah. Tapi kini kita tahu; dunia Islam ini membentang dari Maghrib; dari Maroko, sampai Merauke”, ujar beliau terkekeh.

“Maka sungguh aku berharap, yang dimaksud oleh Rasulullah itu adalah kalian, wahai bangsa Muslim Nusantara. Hari ini, tugas kalian adalah menggenapi syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam.”

“Ah, aku sudah melihat tanda-tandanya. Tapi barangkali kami, para pejuang Palestina masih harus bersabar sejenak berjuang di garis depan. Bersabar menanti kalian layak memimpin. Bersabar menanti kalian datang. Bersabar hingga kita bersama shalat di Masjidil Aqsha yang merdeka insyaallah.”

Syaikh Dr. Abu Bakr Al ‘Awawidah ~ Ulama Syam (Palestina)