Sharing

Melawan Raksasa Liberalisme


Hari ini mungkin kita bosan dengan konflik horizontal di Indonesia yang tak kunjung berakhir. Fenomena konflik ini, menurut saya bukan konflik antara mayoritas dengan minoritas. Bukan konflik antara Muslim dengan Kristen. Bukan konflik antara Pribumi dengan Etnis Tionghoa. Mengapa?

Sebab, jika kita bagi dua kubu : “Pro Ahok” dan “Kontra Ahok” niscaya tidak semua muslim dan pribumi berada pada kubu “Kontra Ahok”. Pun begitu dengan Non Muslim dan etnis Tionghoa. Banyak diantara mereka yang justru berada di kubu “Kontra Ahok”. Mengapa?

Sebab sejatinya konflik yang bermula dari seorang Ahok ini adalah “Konflik Ideologi”. Apakah ideologi Islam melawan ideologi Pancasila? Jawabannya adalah bukan. Mengapa terkesan seperti itu? Sebab ada pihak dengan ideologi yang berseberangan dengan Pancasila hendak membenturkan antara Pancasila dengan Islam. Upaya mereka berhasil dengan banyaknya orang yang tertipu dan mengiyakannya begitu saja.

Maka, ketika ada propaganda bahwa umat Islam hendak makar dan mengganti Pancasila, dengan tegas Panglima TNI menyatakan ketersinggungannya. Apa logis, mereka yang memperjuangkan kemerdekaan, membangun landasan negara, membuat ideologi negara termasuk Pancasila, serta mempertahankan kemerdekaan menjadi pihak yang hendak merusak kesemua hal tersebut?

Ideologi negara kita adalah Pancasila. Ideologi Pancasila pada dasarnya mengakomodasi agama termasuk ideologi Islam. Pancasila juga mengakomodasi agama lain seperti Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Akan tetapi Pancasila secara hakikat bertentangan dengan ideologi asing seperti Liberalisme dan Komunisme. Meskipun, beberapa bagian ada irisan yang menjadi kesamaan. Namun, hakikatnya ideologi-ideologi tersebut saling berlawanan.

Ideologi asing seperti Liberalisme dan Komunisme adalah berbahaya jika kita pelihara. Bukti berbahayanya ideologi tersebut bisa kita rasakan hari ini. Konflik yang terjadi sebenarnya adalah konflik antara ideologi negara “Pancasila” dengan ideologi asing bernama “Liberalisme”.

Mari kita kupas landasan nilai yang menjadikan keduanya bertentangan dan menimbulkan konflik;

(1) Pancasila, sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjiwai sila-sila lain. Sila ini begitu penting. Pancasila menempatkan Ketuhanan dan agama menjadi prioritas utama. Nilai-nilai agama harus dilindungi dan diamalkan untuk pembangunan dan kemajuan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedangkan liberalisme, menempatkan agama sebagai area privat. Meminggirkan agama dan Tuhan dari semua aktivitas negara dan sektor-sektor publik. Konflik pun bermula saat aktivitas publik yakni politik diwarnai isu agama. Saat sebagian umat Islam hendak mengamalkan Al Qur’an memilih pemimpin sesuai dengan agamanya. Sebagai manusia Pancasila, seharusnya itu sudah tepat selama tidak mengganggu agama lain. Tetapi orang liberal akan mengatakan “jangan bawa-bawa agama dalam ranah publik, yakni politik.”

Konflik lain adalah soal UU penodaan agama. Hukum ini sejarahnya pertama kali dibuat oleh Soekarno, bapak proklamator sekaligus salah satu penggagas Pancasila. Sangat wajar jika negara yang menjunjung tinggi nilai Ketuhanan melindungi agama dari pelecehan, penodaan dan penghinaan terhadap agama. Hal ini tidak berlaku hanya untuk agama mayoritas yakni Islam, tetapi juga berlaku untuk agama lain. Terbukti mereka yang menghina agama Hindu juga dihukum.

Konflik muncul bagi mereka yang berideologikan liberalisme. Mereka memandang aturan hukum ini sebagai pengganggu kebebasan individu. Mereka melihatnya sebagai pelanggaran HAM dan ingin menghapusnya. Langkah ini ternyata didukung oleh pihak asing yang juga berideologikan Liberal.

(2) Pancasila dengan sila-sila kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sosial, meminjam istilah Bung Karno “Pancasila itu jika diperas menjadi satu sila saja, maka akan menjadi : Gotong Royong”. Pancasila lahir atas nilai budaya “Kolektifisme”. Berlawanan dengan liberalisme yang lahir atas nilai-nilai “Individualisme.”

Nilai-nilai kolektifisme yang tercermin dalam gotong royong adalah kekeluargaan, berkorban, saling memberi dan berbagi yang pada akhirnya hendak mewujudkan keadilan sosial. Sebaliknya, nilai-nilai individualisme itu tercermin dalam sikap EGOIS, kebebasan individu, menuntut, pelit, dengan usaha minimal mendapatkan hasil maksimal, dll. Akhirnya Egoisme ini melahirkan eksploitasi, monopoli, riba, kolonialisme imperialisme, penjajahan, perbudakan dan ketimpangan sosial.

Sikap egois ini sangat mudah terlihat pada mereka yang menganut ideologi liberal. Konsep HAM misalnya. Pelanggaran HAM yang ringan jika merugikan kepentingan mereka akan dituntut setengah mati. Namun, hal yang sama bahkan lebih berat jika dialami pihak lain maka itu bukan pelanggaran HAM. Mereka hanya diam.

Konsep persatuan, mereka bilang “Kita Indonesia”. Namun, di sisi lain, mereka menuduh kelompok lain pemecah belah persatuan. Mereka yang mulai merusak kesejukan duluan serta tidak menghormati aturan hukum Indonesia mengapa justru mengkambinghitamkan kelompok lain? Bukankah ini sikap egois?

Konsep keberagaman dan toleransi lagi-lagi orang liberal egois. Mereka minta golongan lain menghormati dan toleran terhadap mereka. Namun di saat yang bersamaan, mereka tidak mampu menghormati dan toleran terhadap golongan lain. Pada saat umat Budha berhari raya, hendaklah kita menghormati mereka. Aturan hukum kita sudah melindungi dan melarang berdemonstrasi di hari raya. Namun, orang-orang liberal tidak menggubrisnya. Bagi mereka kebebasan sebebas-bebasnya. Tak ada batas untuk kebebasan mereka. Dan orang diluar mereka seolah-olah tidak punya kebebasan.

Pancasila mengajarkan kita arti kebebasan. Kebebasan harus bertanggungjawab. Sebab, gotong royong itu menempatkan urusan yang lebih besar di atas urusan pribadi. Urusan negara di atas urusan individu. Maka, dengan melihat beberapa fenomena ini, kita harus sadar diri. Kepentingan bangsa di atas kepentingan seorang tahanan !!!

Kita boleh belajar sejauh apapun dan setinggi apapun. Namun tetaplah menjadi orang Indonesia. Anda boleh belajar di negara liberal tapi tetaplah menjadi manusia Indonesia yang berideologikan Pancasila. Jika tidak, hiduplah di negara liberal dan jangan bawa-bawa Liberalisme untuk rakyat Indonesia !!! Kami menolak Liberalisme ! Kami menginginkan Persatuan Indonesia !!! Kami menginginkan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia !!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s