Sharing

Membedah Motivasi Ahok


“Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya bahwa kebohongan tersebut adalah sebuah kebenaran.” -Joseph Goebbelz, Menteri Propaganda Nazi

Tulisan ini adalah analisa saya terkait motivasi Ahok menista Islam. Menurut Mc Clelland, ada tiga hal yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yaitu: motivasi terhadap prestasi, motivasi terhadap kekuasaan, dan motivasi berafiliasi (Hartati, 2007).

Kasus Ahok bisa didekati dengan motivasi terhadap kekuasaaan yang berarti dorongan hati untuk mempengaruhi perilaku orang lain serta mengontrol dan memanipulasi lingkungan.

Apa tujuan Ahok? Tujuannya adalah menang di pilkada DKI sehingga dia bisa berkuasa kembali. Bagaimana caranya? Dia pengaruhi orang lain dengan hal yang positif seperti program-program kerja dan hal yang negatif dengan memanipulasi aspek-aspek yang dirasa merugikan untuk kepentingannya.

QS Al Maidah 51 & Ulama’ jelas merupakan batu sandungan untuk kesuksesan Ahok. Jadi, perlu dimanipulasi dengan membuat propaganda ke masyarakat awam, mereka yang berfikir liberal & mereka yang tidak terlalu taat sama agama.

Propaganda dilakukan dengan cara meminggirkan tafsir yang benar dengan menghadirkan tafsir yang salah (sesuai dengan kepentingan Ahok). Lalu melakukan persuasi dengan segala manipulasinya bahwa yang benar adalah tafsir yang salah. Sedangkan tafsir yang benar diserang dengan frame berfikir “politisasi agama” dsb. Lalu, muncullah dusta-dusta yang disebar berulang-ulang dengan harapan agar publik menganggap kebohongan itulah fakta yang benar.

Upaya untuk meminggirkan tafsir yang benar terus berlangsung. Target serangan sebetulnya mereka yang berdakwah dengan tafsir yang benar itu. Mau aktor politik atau bukan yang penting mereka mendapatkan stigma negatif. Lalu, keluarlah kata “dibodohin” itu.

Tak disangka, pernyataan yang menistakan agama Islam itu mendapat reaksi keras termasuk peristiwa 411. Pernyataan tersebut jelas menghina & menuduh Rasulullah, sahabat, ulama & kaum muslimin yang mendakwahkan Al Qur’an sebagai tukang bohong. Bahkan, penghinaan terhadap Allah & Kalam-Nya yang dianggap sebagai alat pembuat kebohongan.

Nah, itulah orang yang ingin meraih kekuasaan politik dengan menghalalkan segala cara, termasuk menistakan agama. Saya yakin, dia akan menyelamatkan diri dari jerat hukum tentu dengan menghalalkan berbagai macam cara pula seperti suap misalnya. Mari kita tunggu akhir drama penistaan agama ini.

Terakhir saya katakan;
“Jangan sekali-kali hina agama kami hanya untuk kepentingan politik kalian! Atau kami akan bela agama kami yang akan menghancurkan kepentingan politik kalian !!! Sesungguhnya mereka berbuat makar & Allah adalah sebaik-baik pembalas makar !!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s