Akhlaq · Hikmah · Sharing

Amal Bangkrut Karena Dzalim


Ada sebuah kisah tentang seorang petani kaya. Dia punya lahan perkebunan yang luas dan subur di kaki gunung. Ternak-ternak yang gemuk & siap panen. Semuanya menyedapkan pandangan mata. Rencananya, esok hari dia akan memanen semuanya. Dia sudah membayangkan hasil panenannya. Tiba-tiba, malam harinya gunung berapi meletus. Awan panas menerjang kebun-kebun & peternakannya. Seketika semuanya berubah menjadi abu. Buah-buah segar yang sedianya siap panen, semua hangus terbakar. Sapi-sapi yang gemuk tinggal tulang-belulang. Maka begitu ruginya petani ini karena kebangkrutan yang menimpanya.

Kita tentu tidak ingin menjadi bangkrut. Tapi kita terkadang lebih memikirkan cara agar tidak bangkrut di dunia daripada di akhirat. Padahal, di akhirat kita juga bisa bangkrut. Bangkrut di dunia kita bisa bangkit. Tapi bangkrut di akhirat, kita tidak bisa apa-apa lagi.

Bangkrut di akhirat adalah ketika kita punya amal banyak, tapi pahalanya kita kasihkan ke orang lain. Pahala amal kita yang banyak habis diberikan ke orang lain. Sudah habis amal kita, dosa orang lain dilimpahkan ke kita. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Itu semua bisa terjadi jika kita sering dzalim yang biasanya berawal dari penyakit hati yakni hasad (dengki).

Hadits tentang Bangkrutnya Orang Zalim

Suatu ketika Rasulullah SAW. bertanya kepada sahabat-sahabatnya, “Tahukah kalian siapa sebenarnya orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut pandangan kami adalah seorang yang tidak memiliki dirham (uang) dan tidak mermliki harta benda”.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala shalat, pahala puasa, pahala zakatnya dan pahala hajinya, tapi ketika hidup di dunia dia mencaci orang lain, menuduh tanpa bukti terhadap orang lain, memakan harta orang lain (secara bathil), menumpahkan darah orang lain (secara bathil) dan dia memukul orang lain. Maka sebagai tebusan atas kedzalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada orang yang didzaliminya. Semuanya dia bayarkan sampai tidak ada yang tersisa lagi pahala amal sholehnya. Tetapi orang yang mengadu ternyata masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar kejahatan orang yang mengadu dipindahkan kepada orang itu. dan (pada akhirnya) dia dilemparkan ke dalam neraka.”

Kata Rasulullah selanjutnya, “Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan menyakiti hati mereka.” (HR Muslim no. 6522, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya)

“Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf)nya sekarang juga sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dalam Tarjamah Riadhus Shalihin, jilid I, hal. 225, bab Haram berlaku dhalim].

dzalim

Pengertian Dzalim

Dzalim menurut bahasa berarti melampaui batas atau keterlaluan . Sedangkan menurut istilah, dzalim adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, melanggar perkara yang ‘haq’ dan menyakiti sesama baik jiwa, harta maupun perasaannya.

Lawan kata Dzalim adalah Adil.

Hukum Berbuat Dzalim: Haram

عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ فِيمَا رَوَى عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

Dari Abu Dzar, dari Nabi SAW sebagaimana diriwayatkan dari Allah –Tabaraka wa ta’ala- Allah berfirman: “Wahai hambaKu, sesungguhnya Aku mengharamkan atas diriKu berbuat dzalim, dan Aku menjadikannya (kedzaliman) haram diantara kalian maka janganlah kalian saling mendzalimi.”

(HR Muslim)

Contoh & Bentuk Kedzaliman

a.  Syirik Adalah Kedzaliman Terbesar

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan ingatlah saat Luqman menasihati anaknya, dia berkata “Wahai Anakku janganlah kau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kedzaliman terbesar”

(QS Luqman 13)

Syirik adalah kedzaliman terbesar terhadap Allah. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan diibadahi. Namun orang yang syirik melanggar perkara yang paling haq tersebut.

b. Dzalim ke Sesama Manusia

إِنَّمَاالسَّبِيلُعَلَىالَّذِينَيَظْلِمُونَالنَّاسَوَيَبْغُونَفِيالْأَرْضِبِغَيْرِالْحَقِّأُولَئِكَلَهُمْعَذَابٌأَلِيمٌ

“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”
(Q.S. Asy Syura: 42)

Jika berbuat dzalim terhadap manusia lain haram apalagi terhadap sesama muslim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِيْنِهِ فَقَدْ أَوْجَبَهُ اللهُ النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ. فَقَالَ رَجُلٌ: وَإِنْ كَانَ شَيْئًا يَسِيْرًا، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: وَإِنْ كَانَ قَضِيْبًا مِنْ أَرَاكٍ

“Siapa yang mengambil hak seorang muslim maka sungguh Allah telah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan surga baginya”. Ada seseorang yang bertanya: “Walaupun itu sesuatu yang remeh/sedikit wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Walaupun cuma sepotong kayu arak.” (HR. Muslim no. 351)

Abu Salamah (seorang tabi’in) mengabarkan bahwa pernah terjadi pertikaian antara dirinya dengan orang-orang dalam masalah tanah, maka diceritakannya hal itu kepada Aisyah radhiyallahu ‘anhu. Aisyah pun berkata kepadanya: “Wahai Abu Salamah, lebih baik engkau jauhi tanah tersebut, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ اْلأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

“Siapa yang berbuat dzalim terhadap satu jengkal tanah maka akan ditimpakan/dipikulkan padanya tujuh lapis bumi.” (HR. Al-Bukhari no. 2453 dan Muslim no. 4113)

c. Dzalim terhadap Diri Sendiri

Sesuai dengan firman Allah SWT :

 

… فَمِنْهُمْظَالِمٌلِنَفْسِهِ …

“ …Lalu di antara mereka ada yang menganiaya (menzalimi) diri mereka sendiri … ” (Q.S. Faatir : 32)

Menzalimi diri sendiri adalah melakukan hal-hal yang dilarang Allah yang dapat merusak diri. Contohnya, minum minuman keras (yang memabukkan), berjudi, berzina, memakai narkoba dan sejenisnya. Orang semacam ini akan mudah menuruti ajakan syaithan dan melakukan kedzaliman lain, misalnya mencari rezeki dengan jalan yang haram (mencuri/korupsi).

 وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ الْأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh orang yang Dzalim akan mendapat siksaan yang pedih.

(QS Ibrahim 22)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s