Sharing

Ketika Kaum LGBT Mencoba Beradaptasi


Mereka bilang LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) itu bawaan dari lahir. Jika menghujat berarti sama saja menghujat Sang Pencipta. 

Nah, saya yang heteroseksual ini juga punya bawaan dari lahir. Saya suka sama lawan jenis. Bahkan satu pun rasanya nggak cukup. Pengennya banyak pasangan. Tapi apa ya perlu saya turuti? Apa perlu masyarakat menerimanya? Apa perlu negara melegalkan poligami?

Saya juga punya bawaan marah-marah dan sikap agresi. Kalau ada yang tidak saya sukai pengen banget marah-marah dan nonjok orang yang nyebelin. Tapi apa perlu saya turuti dan berbuat kerusakan?

Nah, manusia mana yang tidak punya hawa nafsu? Masalahnya adalah tiap orang mengambil keputusan yang berbeda dari dua pilihan. Memperturutkan hawa nafsu atau menaklukkan hawa nafsu.

Tuhan menciptakan hawa nafsu sebagai ujian. Tuhan memang Maha Pengasih. Sayangnya, Tuhan juga Maha Adil. Jika Tuhan ciptakan manusia sebagai makhluq paling sempurna dan paling tinggi derajatnya tanpa diuji, lalu apa kata malaikat???

Dia hadiahkan orang yang lulus ujian dan Dia siksa orang yang gagal ujian. Anda boleh tidak percaya. Tapi tanyakan pada diri sendiri bagaimana jika ini adalah realitas yang benar?

Saya punya teman yang punya kecenderungan gay. Dari mana saya tahu? Dari tes grafis yang saya berikan kepadanya. Karena tidak percaya dengan hasil tesnya, saya tanya langsung ke dia. Dan dia mengakuinya. Apakah dia sekarang jadi seorang gay dan pendukung LGBT?

Jawabannya adalah tidak. Dia tidak mau takluk dengan hawa nafsunya !!! Sejauh ini dia berhasil, adaptif & diterima dengan baik oleh kawan dan masyarakatnya. Lain cerita, ada juga yang sudah terjerumus ke dalam aktifitas LGBT. Hanya saja, dia kembali tunduk dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Dia telah memilih jalan keselamatan dan kesembuhan.

Ada lagi yang bilang LGBT tidak berbahaya, tidak menular & tidak merusak.

Sedikit cerita waktu saya masih SMA, saya sempat tertidur di bis kota. Tiba-tiba terasa ada yang meraba-raba tangan saya. Begitu mata terbangun, seorang laki-laki yang feminim. Muak, jijik, dan pengen banget nonjok mukanya. Tapi saya lebih memilih menolak dan bersabar atas gangguan “orang gila” tersebut. Anda boleh menyebut penderita LGBT tidak gila. Tapi bagi korban, mereka gila ! Saya cuman diraba, bagaimana dengan korban yang lebih parah diganggunya???

Anggap saja ada orang normal yang diganggu dengan aktivitas seksual ala LGBT. Saat pertama mengalami hubungan seksual seperti itu, orang tersebut merasa malu, jijik, & bersalah. Tapi ada juga rasa nikmat dan rasa penasaran, sehingga ingin mencoba lagi. Akhirnya jadilah perilaku yang disukai dan adiktif. Hal ini terjadi terutama pada remaja yang masih labil dan belum pernah mendapatkan pengalaman seksual sebelumnya. Jika tidak percaya, silakan menghubungi para konselor yang banyak menangani kasus LGBT. Apakah polanya seperti cerita barusan ataukah tidak?

Itulah mengapa penyakit LGBT disebut menular. Konteks “menular” disini adalah karena secara psikologis muncul rasa “ketagihan” setelah newbie (orang yang tadinya tidak LGBT) mendapatkan pengalaman seksual baru & pertama kali dia rasakan. Efek adiktif ini mirip dengan kasus pornografi & narkoba.

Apakah LGBT itu Penyakit Jiwa?

Pernyataan sikap Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di bawah ini mungkin bisa menjawab rasa penasaran Anda.

Perhimpunan dokter spesialis jiwa

Perhimpunan dokter spesialis jiwa2

Jadi, wajar kan kalau yang hetero merasa cemas? Sudah gangguan jiwa ada tendensi ditularkan juga dari para pelakunya. Belum lagi masalah AIDS sampai dengan bahaya kerusakan lain seperti berkurangnya ras. Atau masalah remeh temeh seperti harus menyediakan toilet umum khusus waria. he he …

Bagi kita yang heterosexual, mungkin merasa cemas dengan fenomena sekarang. Kampanye LGBT begitu massif. Mereka ingin diterima masyarakat, kalau perlu dilegalkan negara. Tapi saya yakin, penderita LGBT lebih cemas sebetulnya. Mereka menderita kecemasan sosial. Beberapa juga cemas karena menolak takdir & realitas. Yang ditakdirkan laki-laki menolaknya dan malah pengen jadi perempuan. Kecemasan & penolakan realitas adalah benih-benih dari gangguan psikologis. Kecemasan & penolakan realitas adalah ciri-ciri kesehatan mental yang tidak sehat.

Dalam mengatasi kecemasan ini mereka melakukan kampanye-kampanye supaya diterima. Mungkin mereka akan mendapatkan tujuannya. Sebagian ahli membela mereka. Sesuatu yang tadinya abnormal menjadi normal karena banyak pelakunya. Seperti korupsi, awalnya abnormal tapi jadi normal karena mayoritas koruptor. Sebagian masyarakat menerima mereka. Beberapa negara melegalkannya. Tapi pikirkanlah, Apakah Tuhan akan menerima pelaku LGBT jika mereka tidak bertaubat ???

Ketahuilah, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi hambanya yang mau bertaubat. Bahkan dosa sebesar gunung pun jika nyawa belum sampai kerongkongan dan matahari belum terbit dari Barat maka insya Allah akan diampuni jika sungguh-sungguh bertaubat. Jadi, mengapa tidak bertaubat saja untuk mendapatkan ketenangan?

Nafis Mudrika, Februari 2016

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s