Sharing

Perempuan Perkasa


jatinegara stsAda cerita menarik sewaktu saya berada di Stasiun Jatinegara. Waktu itu masih pagi. Sekitar usai sholat subuh. Saya duduk menunggu kereta yang menuju ke Stasiun Manggarai. Kemudian, datanglah seorang ibu paruh baya yang mendekat dan duduk di sebelah saya. Sosok perempuan berkerudung itu terlihat kelelahan. Ia adalah salah satu dari sekian banyak penjual asongan yang menjual kopi dan makanan seduh lainnya.

Saya pun membuka percakapan dengan beliau. Ada banyak hal yang kami bicarakan. Saya pun ingin tahu bagaimana kehidupan seorang pedagang asongan yang berjuang di gerbong kereta setiap malam.

Ia pun bercerita tentang awal dia bekerja di kereta. Sebelumnya, ibu tersebut sudah punya pangkalan dagang di daerah Karawang. Namun, karena diusir oleh petugas kamtib, ia harus berjualan di gerbong kereta.

Berjualan di kereta bukanlah pekerjaan yang mudah. Ibu ini datang sekitar habis isya dan pulang sekitar jam 10 pagi. Ia harus menyelesaikan pekerjaan rumah dan hanya istirahat tidur sebentar. Habis ‘ashar, dia sudah harus bangun lagi. Kalau kelelahan, ia baru bisa bangun sekitar jam setengah lima sore. Ia pun harus segera kembali ke kereta untuk bekerja menjajakan dagangannya.

Di kereta, tentunya sangat melelahkan harus berjalan dan berteriak “kopi…kopi…kopi…” serta harus melayani penumpang kereta. Kadang, ia merasa sedih mengapa nasibnya seperti ini. Mengapa di usianya yang sudah senja, dirinya masih harus berjuang bekerja di atas kereta. Sendirian karena suaminya sudah meninggal. Ia merasa sangat berat menjalani hidup ini. Tanpa masa depan yang cerah.

Walaupun hidupnya susah dan harus bekerja sekeras itu, ia tetap menyempatkan diri untuk datang ke pengajian. Dalam bekerja pun dia berkata bahwa dirinya harus berdagang dengan jujur.

Setelah obrolan panjang, ibu dari Karawang itu pun pergi. Saya sudah tidak dapat membeli kopi hangat karena dia sudah tidak punya air panas lagi. Namun, saya mendapatkan hikmah dari pertemuan tersebut.

Saya ini masih muda dan saya tidak mau menjalani masa tua dengan penyesalan. Saya pun bertekad untuk memanfaatkan masa muda saya sebelum masa tua saya datang. Bekerja dengan sungguh-sungguh seolah-olah saya akan hidup selamanya. Mencari ilmu dan beramal sholeh untuk mengisi masa muda saya. Saya ingin belajar dan berbagi dengan sesama.

Saya juga belajar bahwa uang lima ribu rupiah itu bukanlah uang yang mudah didapatkan oleh sebagian besar orang. Tapi saya selalu bertanya, mengapa uang ratusan bahkan jutaan rupiah dihambur-hamburkan setiap hari oleh segolongan orang yang hidup mewah serta para penguasa di negeri ini? Sudah habiskah para pemimpin yang benar-benar membawa rakyat ke gerbang pintu kesejahteraan? Apakah para pemimpin sudah benar-benar habis dan hanya meninggalkan para penguasa saja?

Saya juga bertanya, mengapa mereka memilih untuk memberi makan dan mempercantik anjing-anjing mereka daripada menjadi orang tua asuh bagi anak-anak yatim? Mengapa mereka memilih menonton konser dan berburu barang antik daripada bersedekah dan berbagi dengan saudaranya yang setiap hari berjuang untuk makan? Mengapa mereka merasa bangga, sombong dan berwibawa hidup mewah sementara orang-orang di sekelilingnya hidup dalam keterbatasan?

Di manakah hati nurani bicara? Di manakah rasa kemanusiaan itu menjerit? Rasanya, hati ini berkecamuk melihat nasib pribumi dan orang kecil di masa merdeka ini tidak jauh berbeda dengan nasib mereka di masa-masa penjajahan, kapitalisme dan kolonialisme tempo dulu.

Ini semua tentang rasa keadilan yang mengusik hati. Rasa keadilan yang akan membawa kita kepada perjuangan untuk meraih kemenangan. Suatu saat nanti.

(Nafis Mudrika)

One thought on “Perempuan Perkasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s