Sharing

Rahasia Membina Hubungan Harmonis


emotional-intellegenceIngin mempunyai hubungan yang harmonis? Yang bisa saling berbagi dan mengisi satu sama lain? Yang mampu melewati konflik secara bersama-sama? Oke, hampir semuanya mau dan hampir semuanya ingin tahu rahasianya.

Sebetulnya, rahasia hubungan yang harmonis ada di komunikasi. Kalau proses ini berjalan lancar dan baik, kemungkinan besar hubungan akan baik pula. Begitu juga sebaliknya. Nah, hal-hal berikut ini dapat kita gunakan sebagai acuan kita, apakah kita sudah menjadi komunikator yang baik atau belum.

Kritikan vs Pujian

Kita bisa menghancurkan sebuah hubungan bertahun-tahun hanya dengan kritikan kurang dari satu menit. Apalagi jika kritikan itu dilancarkan di depan umum. Kritikan bisa dengan cepat menghancurkan hubungan baik. Kalaupun tidak, kritikan akan membuat si “korban” tidak lagi merasa nyaman, percaya, ataupun suka terhadap kita. Minimal tertanam benih-benih kebencian. Maklum, hampir semua orang tidak suka dengan kritikan ataupun cacian. Ia mungkin bisa memaafkan tapi tetap saja benci akan hal itu.

Berbeda dengan kritikan, pujian yang tulus bisa membuat orang menyukaimu. Itu karena manusia sangat butuh pujian dan pengakuan yang tulus. Tidak melebih-lebihkan dan tidak menjilat. Akui dan puji kelebihan, potensi, prestasi, ide-ide dan peranannya (kedudukannya) yang sangat penting dan kamu akan mendapatkan hatinya dengan mudah. Kamu bisa melakukannya dan orang lain akan menyukaimu dan jatuh hati dalam pengaruhmu.

Egois vs Mendengar aktif

Maksud egois di sini adalah terus berbicara tentang diri sendiri, mementingkan kepentingan diri atau mendominasi komunikasi dengan hal-hal yang narcis-egois. Dari mengeluh, membicarakan minat sendiri sampai membangga-banggakan diri. Bahkan, seringkali tidak memperhatikan dan mempedulikan lawan komunikasi.

Mendengarkan aktif berarti bersungguh-sungguh memberikan minat, perhatian, respek, peduli, mementingkan kepentingan lawan dan tidak egois. Kita bisa mendengar dan menaruh perhatian terhadap apa yang dikatakannya dan sesekali menanggapi, menguatkan atau bertanya. Hampir semua manusia itu egois. Jadi, kalau kita mampu memenuhi kebutuhan itu, dan sedikit mengorbankan ego kita (kepuasan) maka kita akan mendapatkan hatinya dan mampu mempengaruhinya.

Berdebat vs Memaafkan.

Tiada hasil yang lebih baik dari berdebat dan marah-marah selain kebencian dan permusuhan. Minimal benih-benih dari kedua hal tersebut yang mungkin akan meledak suatu saat nanti.

Ketidaksamaan pemikiran dan perasaaan adalah hal yang wajar. Tapi menyikapinya dengan memaksakan sesuatu kepada orang lain –lewat apapun– tentu akan dengan cepat merusak hubungan. Ingat, kita mungkin benar secara prinsip dan menang secara logika dalam perdebatan. Tapi kita telah dikalahkan secara telak oleh ego kita.

Kamu tidak perlu repot-repot menyalahkan orang lain dengan berdebat. Kamu cukup mengakui kesalahan (jika salah) dan menghindari perdebatan. Selanjutnya, memberinya maaf dan menunjukkan kebesaranmu kepada orang kecil.

Nah, berbeda dengan berdebat yang kaku. Sikap memaafkan dan mau memahami bahkan menerima perbedaan adalah sikap yang baik dalam menyikapi perbedaan. Kita harus teguh dalam berprinsip. Tapi kita juga harus berprinsip bahwa di dunia ini tidak ada paksaan buat orang lain untuk mengikuti prinsip kita. Kamu bisa memaafkan dan menunjukkan bahwa dirimu adalah orang besar, berwibawa dan patut dihormati.

Cemberut vs Tersenyum

Bermuka masam membuat orang lain malas berurusan dengan seseorang. Bermuka masam atau cemberut merupakan komunikasi non verbal yang sangat negatif. Ia akan memberi kesan yang negatif pula. Orang jadi malas berkomunikasi dengannya. Jadi berfikir yang tidak-tidak.

Berbeda dengan cemberut, tersenyum dan bermuka manis adalah sentuhan kunci dalam membuat kesan yang positif. Siapa sih yang tidak suka dengan senyum? Senyum bisa dilakukan untuk memberi kesan yang baik di awal komunikasi.

Buruk sangka vs berprasangka baik

Mengapa hal ini penting? Sebab, ketika kita hobi berprasangka buruk dan menggosipkan orang di belakang, maka tanpa sadar akan terbawa pada sikap kita yang tidak benar dalam memandang orang tersebut. Mungkin saja orang tersebut sudah melakukan hal yang benar. Tapi karena kita berprasangka buruk, terus menggosip dan sudah terlanjur buruk persepsi atau runtuh kepercayaan terhadap orang itu, maka hati kita pun menjadi buta dalam melihat realita.

Berbeda jika kamu berprasangka baik dan bebas dusta bernama gosip. Kamu bisa memandang orang dengan pandangan yang benar dan dengan mudah melakukan komunikasi positif seperti yang disebutkan di atas.

Itulah lima acuan dalam berkomunikasi dan membina hubungan. Kebanyakan orang hanya mau enaknya sendiri. Hanya mau dipuji, diperhatikan, didengarkan, dicintai dan dimaafkan. Tapi terkadang lupa bahwa untuk meraih semua itu, orang harus terlebih dahulu memberikannya. Ya, memberi pujian, perhatian, maaf dan hal-hal yang memuaskan ego lawan komunikasi. Semua itu tentang rasa cinta yang tulus.

Cinta sendiri merupakan persoalan memberi dan melayani, serta mengorbankan diri. Kalau itu dilakukan dengan mengorbankan ego dan memberikan kepuasan kepada orang lain, maka dia akan jatuh cinta ataupun jatuh hati ke dalam pengaruhmu. Kalau di awal dikatakan bahwa rahasia hubungan adalah komunikasi, maka rahasia komunikasi adalah bagaimana cara memuaskan ego lawan komunikasi.

I will forget what do you said
I will forget what do you did
But …
I will never forget how you made me feel

(Nafis Mudrika)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s