FITNAH AKHIR ZAMAN DARI ARAB SAUDI !!!


Kaum Muslimin Dihancurkan dari Dalam

Tsauban Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyatukan untukku dunia, lalu aku melihat
timur dan baratnya dan sesungguhnya umatku akan sampai kekuasaannya seluas yang disatukan Allah untukku dan aku diberi dua harta simpanan yaitu emas dan perak lalu aku memohon kepada Rabb-ku untuk umatku agar dia tidak menghancurkannya dengan kelaparan yang menyeluruh, dan menguasakan atas mereka musuh-musuhnya dari selain mereka sendiri lalu menghancurkan seluruh jama’ah mereka, dan Rabb-ku berkata : “Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku jika telah memutuskan satu qadha’ maka tidak dapat ditolak, dan Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu bahwa Aku tidak akan menghancurkan mereka dengan kelaparan yang menyeluruh dan tidak akan menguasakan atas mereka musuh-musuh dari selain mereka yang menghancurkan seluruh jama’ahnya walaupun mereka telah berkumpul dari segala penjuru – atau mengatakan- : Orang yang ada diantara penjuru dunia- sampai sebagian mereka membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lainnya” [Hadits Shahih Riwayat Muslim (2889)]

Sungguh, meskipun kaum kafir dari seluruh dunia bersatu, mereka tidak akan mampu menguasai seluruh kaum muslimin sampai sebagian kita membunuh dan menjadikan rampasan perang sebagian yang lain. Inilah fitnah akhir zaman yang mau tidak mau harus kita hadapi. Pembunuhan antar sesama kaum muslimin seperti yang ada di Iraq dan Timur Tengah. Sungguh fitnah zaman ini adalah perpecahan dan permusuhan di antara kaum muslimin sendiri. Belum lagi ditambah ancaman dan terkaman dari orang-orang kafir.

Sumber Fitnah dari Nejd (Arab Saudi)

Dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda :

“Ya Alloh berkahilah Syam kami dan Yaman kami”. Para sahabat berkata, “juga Nejd kami?” Rasulullah berkata, “Ya Alloh berkahilah Syam kami dan Yaman kami”. Para sahabat berkata, “juga Nejd kami?” –Saya (perawi) menduga beliau menyebutkan tiga kali- kemudian Nabi bersabda, “Dari sanalah (Nejd) keguncangan dan fitnah bermula, dan disana pula muncul dua tanduk syaithan.” (HR Bukhari)

Para Wahabi / Salafy memahami Nejd dalam hadits di atas adalah Iraq. Mereka berargumentasi bahwa jika dipandang dari Madinah, Nejd (Iraq) berada di timurnya sedangkan Nejd (pedalaman Arab) berada di selatannya. Berikut hadits shohih yang mereka anggap menguatkan pendapatnya:

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menghadap ke arah timur  kemudian bersabda : “Ketahuilah sesungguhnya fitnah berasal dari sini, sesungguhnya fitnah berasal dari sini, disinilah muncul tanduk syaithan.” (HR Muslim)

Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul). (HR Bukhori no 7123, Juz 6 hal 2074. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban)

Padahal telah diketahui bersama, bahwa ketika Nabi bersabda demikian, beliau berada di Madinah, dan ketika itu beliau menghadap ke arah timur sedangkan timur Madinah adalah  Nejd (pedalaman Arab) bukan Iraq (Silakan lihat di peta dunia, khususnya peta Saudi Arabia) Saya yakin Nabi tidak bingung arah, sehingga bingung mana timur, mana utara. Saya yakin, orang yang membuat peta juga tidak bingung arah, sehingga timur dianggap utara dan selatan dianggap timur. Sungguh, selatannya Madinah adalah Makkah, bukannya Nejed seperti yang dikira oleh orang-orang yang bingung arah itu. Kami sarankan bagi mereka membeli kompas dan datang sendiri ke sana jika tidak mempercayai peta. Ada garis lurus ke timur dari Madinah menuju kota Riyadh (salah satu kota di wilayah Nejd yang dulu merupakan tempat tinggal orang-orang Badui). Tidak meleset ke utara, tidak pula meleset ke selatan. Nejd (timurnya Hijaz) sendiri berada diantara Medina (baratnya) dan Yamama (timurnya).

Catatan:

  • Seorang muslim tidak boleh mengingkari hadits di atas apalagi riwayatnya shohih dengan periwayat dua imam hadits terpercaya (Imam Bukhari dan Imam Muslim)
  • Seorang muslim tidak boleh berdusta dan asal berdalih, mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, serta menyembunyikan kebenaran hanya untuk membela golongannya. Bukan untuk menegakkan kebenaran dan melayani kepentingan kaum Muslimin seluruhnya. Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah ialah pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya. Riwayat Muslim.
  • Salafy / Wahabi tidak perlu khawatir jika mereka merasa benar-benar berada di atas kebenaran. Atau bahkan merasa paling benar sendiri. Siapa tahu yang dimaksud Rasulullah adalah fitnah lain seperti kemungkinan munculnya para du’at penyeru pintu Jahannam dari Nejd (Arab). Mereka menyerukan egoisme dan sombongisme berkedok monoteisme (tauhid) sehingga yang mengijabahinya akan memasuki pintu Jahannam itu menjadi gerombolan anjing-anjing neraka.
  • Maksud asal fitnah dari Nejd (Arab Saudi) tidak bisa kemudian dilihat dari lahirnya saja. Boleh jadi kita tertipu melihat suasana yang terkesan tenang dan baik. Hal ini seperti tsunami. Asalnya gempa di kedalaman laut. Tapi lautnya sendiri terlihat tenang setelah gempa itu. Kemudian negeri-negeri di sekitarnya mengalami imbas kerusakan yang dahsyat.
  • Dalam sejarah Islam, satu-satunya kelompok yang bercukur adalah para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal tersebut terjadi di masa lalu dan kini sudah ditinggalkan. (Sumber : rubrik : Bayan, majalah bulanan Cahaya Nabawiy No. 33 Th.III Syaban 1426 H / September 2005 M) lihat juga: http://allangkati.blogspot.com/2010/06/wilayah-nejd.html
  • Kesimpulan: Kita harus hati-hati dengan semua syubhat dan fitnah yang berasal dari negeri Nejd (timurnya Hijaz). Kita harus belajar sejarah (tarikh) khususnya tentang negeri Nejd sejak zaman nabi, dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab (Gerakan Wahabi) sampai terbentuknya Kerajaan Saudi Arabia. Kita juga harus selalu memantau Nejd, negeri timurnya Madinah, yang di sana ada kota Riyadh, ibukotanya Kerajaan Saudi Arabia (KSA), termasuk gerak-gerik mereka terhadap kepentingan Kaum Muslimin di seluruh dunia. Hati-hatilah fitnah dari Nejd (timurnya Hijaz) !

Da’i-da’i Arab Mengajak ke Pintu Jahannam

Kemudian, mari kita bahas hadits shohih berikutnya:

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Ta’ala Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : Ada”. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ? Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada kabut (dakhanun)” . Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ? Beliau bersabda : Ya, da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ? Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu” (HR Bukhori dan Muslim)

Hadits di atas dapat difahamai dengan bantuan Hadits Shohih Riwayat Ahmad:

“Periode  an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode  khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam,”(HR Ahmad 17680)

Dengan demikian, dapat dibagi kapan terjadinya hal-hal tersebut:

  • Masa kebaikan (Masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin / khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah)
  • Masa keburukan (perpindahan dari khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah menuju  mulkan aadhdhon) Masa-masa tersebut sangat buruk mengingat pembunuhan kaum muslimin oleh kaum khawarij seperti pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib, pembantaian putra beliau sekaligus cucu Rasulullah, Sayyidina Husein dan pembantaian-pembantaian lainnya.
  • Masa kebaikan yang sedikit tercemar/keruh (mulkan aadhdhon): Masa-masa Khilafah Islamiyah Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyyah, dan Dinasti Turki Usmaniyah. Mereka hanya menggigit Al Qur’an dan Sunnah sehingga di beberapa tempat muncul dakhanun (Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku). Lalu muncullah berbagai macam takhayul, bid’ah maupun khurofat.
  • Masa keburukan (mulkan jabbriyyan): Masa-masa negeri Islam yang terpecah-belah menjadi negara-negara kecil dengan ciri memerintah secara otoriter (memaksakan kehendak). Ada Kerajaan Saudi Arabia, Republik Mesir, Turki, Iraq, Iran, Suriah, Yaman, Indonesia, Malaysia, serta Negara Islam kecil lainnya. Dalam masa ini, sejak awal dimulainya sampai sekarang, keluarlah da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Mereka inilah yang menghasilkan khawarij-khawarij modern dengan panji-panji terorismenya. Masa-masa da’i penyeru kesesatan ini adalah masa-masa kita sekarang !
  • Setelah itu terulang masa kebaikan lagi yang datangnya Insya Allah sebentar lagi. Kebaikan itu adalah khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Masa-masa tersebut kemungkinan terjadi dengan dimulainya pemba’iatan Imam Mahdi secara paksa di depan Baitullah di Mekkah, Ashabu Rayati Sud (Pasukan Panji Hitam) dari Timur, Penaklukan Arab Saudi dan Tegaknya Khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah.

Jika diperhatikan, saya mengklasifikasikan masa keburukan sebagai masa meraja-lelanya kaum khawarij yang membunuh sesama muslim. Sebab fitnah ini sangat merepotkan untuk kita berantas, kaum khawarij itu muslim, bahkan terlihat lebih sholih dari kita (sehingga kita kesulitan untuk memerangi mereka secara frontal), tapi mereka terbukti fasik (suka mencaci muslim & akhlaqnya bejat) karena mereka selalu memandang hitam-putih (tidak terlihat kebijaksanaannya), dan akhirnya kafir (jika mereka mengkafirkan atau membunuh muslim yang tidak kafir). Pelajaran terpenting dari hadits-hadits di atas bukanlah sebuah penguatan untuk menuduh kelompok ini sesat atau kelompok anu sesat. Tetapi, pelajaran terpenting yang harus diambil seorang muslim adalah:

  • Mengingkari kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku (Sisa-sisa tradisi dakhanun). Kemungkinan tradisi dakhanun itu dianggap baik, tapi itu bukan sunnah dan petunjuk nabi. Kita pun disuruh mengingkari, maka marilah kita taat. Dengan demikian, kita harus berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah.
  • Di Indonesia, pewaris dakwah Islam berhaluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan madzhab Syafi’i yang konsisten mewarisi dakwah Islam dari masa kebaikan yang sedikit tercemar/keruh (masa mulkan aadhdhon) direpresentasikan oleh NU. NU sendiri sebetulnya anti bid’ah dan memeranginya sehingga nasehat untuk mereka adalah: “Bersihkan sisa-sisa tradisi dakhanun. Ada beberapa bid’ah yang bisa memperkeruh dakwah NU” Jika mereka mampu melakukannya, besar kemungkinan merekalah yang akan menjadi dakwah terdepan dalam menyokong masa khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Pun begitu dengan dakwah lain juga harus introspeksi diri agar membersihkan dirinya dari dakhanun, bid’ah maupun penyakit lain. Dengan demikian, NU dan dakwah lain yang sejalan seperti Muhammadiyah, Persis, PKS, dsb bisa bersatu di bawah Al Qur’an dan Sunnah menjadi Al Jama’ah penyokong terkuat khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Jika itu terjadi, ramalan Rasulullah bahwa Islam akan bangkit dan datang dari timur (Nusantara) akan benar-benar terjadi.
  • Dakwah yang menentang dan memerangi dakhanun beserta bid’ah-bid’ahnya secara berlebihan (ekstrim) adalah du’at yang menyeru ke pintu jahannam. Disebut demikian karena kebencian dan permusuhan yang berlebihan sehingga jika diijabahi akan terjadi perselisihan yang banyak, perpecahan dan banyak pembunuhan terhadap sesama muslim yang mengantarkan pelakunya masuk jahannam. Kaum muslimin pun terancam dari bahaya lidah dan tangan mereka. Mereka ini menghadirkan masa keburukan buat kaum muslimin. Mereka juga mengikuti kaum Yahudi yang mengusung faham egoism dan terjangkiti penyakit sombong. Anggapan sesat mereka adalah hanya mereka sendiri yang benar dan mereka menolak kebenaran dari luar kalangannya. Ketahuilah, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat atom rasa sombong.” Kemudian beliau bersabda, “Sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim) Kemudian, mereka hampir sangat sulit diajak kembali karena mereka membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya.
  • Tidak mengijabahi da’i-da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Ciri-ciri mereka adalah mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Karena kulit dan bahasa Rasulullah adalah Arab, maka da’i-da’i yang dimaksud adalah orang Arab.
  • Sikap kita jika bertemu mereka: Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya, seperti Kekhalifahan Islam Turki Usmani atau Kekhalifahan Islam yang lain. Bukan jama’ah-jama’ah kecil dengan imamnya yang menyeru pada golongannya.
  • Karena sekarang kita tidak punya jama’ah yang dimaksud dan imamnya maka: Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu. Pokok pohon yang dimaksud adalah Al Qur’an dan Sunnah. Hati-hati saudaraku, jangan sampai tertipu oleh da’i yang dimaksud, padahal kita disuruh menghindari semua firqah. Taatlah pada Rasul yang menyuruh kita menghindari semua firqah. Jika tidak, kita mudah disesatkan untuk berpegang teguh pada golongan mereka, bukan berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Cukup kita semua berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah. Kemudian bersabar menunggu datangnya Imam Mahdi.
  • Ali bin Abi Thalib berkata: “Jama’ah adalah kumpulan orang-orang yang berada dalam kebenaran sekalipun jumlahnya sedikit. Sedangkan firqah adalah kumpulan orang-orang batil sekalipun jumlahnya banyak.” Dengan demikian, syarat agar kumpulan itu disebut jama’ah adalah “kebenaran” yang bersama-sama ditegakkannya, bukan “bajunya” atau “organisasinya”.
  • Orang-orang NU, Muhammadiyah, Persis, PKS, IM, dan dakwah lain yang sejalan adalah satu golongan “ahlus sunnah wal jama’ah” jika mereka berada dalam kebenaran, memenuhi syarat firqatun najiyah dan tidak teracuni oleh ciri-ciri firqah penganut ahli kitab. Dalam sejarahnya, perselisihan di antara mereka hanya masalah cabang dan hampir tidak pernah antar mereka saling mengkafirkan satu sama lain dan menganggap yang lainnya tidak selamat. Perbedaan baju yang mereka kenakan sebetulnya hanya metode berdakwah dan berjuang menegakkan kebenaran (Islam). Bid’ah-bid’ah yang ada pada diri mereka harus segera dibersihkan agar dapat bersatu dalam al jama’ah. Sisa-sisa fanatisme, egoism dan kesombongan dari diri mereka, juga harus dibersihkan agar dapat bersatu dalam al jama’ah. Akan tetapi jika tidak, kesemuanya itu hanyalah firqah-firqah yang mirip sekte-sekte lain semisal Ahmadiyah ataupun JIL.
  • Kenalilah Imam Mahdi dan pengikutnya, beliau datang dari timur, menaklukkan Arab, Persia, Rum dan Dajjal. Sembari menunggu beliau, marilah kita terus menimba ilmu yang bermanfaat, memperbaiki diri dengan amal sholih, menyelamatkan saudara semuslim dari bahaya lidah dan tangan kita, menjaga ukhuwah islamiyah, amar ma’ruf nahy munkar dan terus tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa.
  • Kesimpulan: Berpegang teguhlah pada Al Qur’an dan Sunnah! Hindari semua firqah apalagi firqah yang diseru oleh orang Arab. Apalagi jika menilik dua hadits sebelumnya, maka: Hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang Arab dari Nejd (Hijaz).
  • Salafi / Wahabi tidak perlu tambah risau jika mereka merasa benar-benar berada di atas kebenaran. Atau bahkan merasa paling benar sendiri. Siapa tahu yang dimaksud Rasulullah adalah dakwah sesat dari Nejd setelah dakwah Salafy (dakwah sesat itu bukan dakwah salafiyah) yang mengajak ke pintu Jahannam dengan memecah belah agama, fanatik golongan, hizbiyah, memusuhi dan mencaci maki kaum muslimin serta memerangi (membunuhi) kaum muslimin baik yang sholih maupun yang jahat.

 

Fitnah Ulama Buruk yang Mengekor Penguasa

Beberapa hadits terkait hal ini ada beberapa;

  • Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)
  • Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR. Asysyihaab)
  • Ketamakan menghilangkan kebijaksanaan dari hati para ulama. (HR. Ath-Thabrani)
  • Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)
  • Para ulama fiqih adalah pelaksana amanat para rasul selama mereka tidak memasuki (bidang) dunia. Mendengar sabda tersebut, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa arti memasuki (bidang) dunia?” Beliau menjawab, “Mengekor kepada penguasa dan kalau mereka melakukan seperti itu maka hati-hatilah terhadap mereka atas keselamatan agamamu. (HR. Ath-Thabrani)
  • Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)

Sebagaimana nasehat di atas, hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang Arab dari Nejd (Hijaz). Nah, selain keutamaan ulama’ (baik berdasarkan Al Qur’an maupun Sunnah) ada juga kesalahan ulama’ yang buruk. Inilah fitnah dari ulama’ yang buruk. Ciri-ciri mereka adalah bergaul erat dengan penguasa serta tamak sehingga tidak bijaksana. Amal perbuatannya juga tidak seperti ajarannya. Jika dia mengajarkan taat pada Imam Kaum Muslimin, maka seharusnya dia benar-benar taat. Salafi – Wahabi tidak perlu semakin risau hanya karena Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berasal dari Nejd (Hijaz) dan dikenal sangat dekat dengan Ibnu Saud sehingga mereka berdua sangat heroik mengusir Khilafah Islamiyah Turki Usmani dan kemudian mendirikan Kerajaan Saudi Arabia. Toh, beliau juga banyak berjasa dalam memurnikan tauhid, bukan? Saya sendiri pernah membaca salah satu kitabnya dan memang bagus. Tapi saya tidak tahu apakah akhlaq beliau sebagus kitabnya. Maka, tidak patut bagi seorang muslim memfitnah seorang muslim lain apalagi ulama’ tanpa bukti yang nyata. Maka kita harus mempelajari sejarah Kerajaan Arab Saudi dulu baik-baik. Mereka yang sangat gemar menuduh dan memfitnah muslim lain apalagi ulama’ Kaum Muslimin tentu dipertanyakan keislamannya.

 

Pemimpinnya disangka punya pegangan, padahal sama sekali tidak demikian !!!

Hadits berikutnya:

“Sungguh, menjelang terjadinya Kiamat ada masa-masa harj (kerusuhan / huru-hara) Para sahabat bertanya : “Apakah harj itu ?” Beliau bersabda : “Pembunuhan.” Mereka bertanya : “Apakah lebih banyak jumlahnya dari orang yang kita bunuh? Sesungguhnya kita dalam satu tahun membunuh lebih dari tujuh puluh ribu orang?” Beliau bersabda :“Bukan pembunuhan orang-orang musyrik oleh kalian itu, tetapi pembunuhan dilakukan oleh sebagian kalian terhadap sesamanya (kaum muslimin) ” Mereka bertanya : “Apakah pada masa itu kami masih berakal?“ Beliau bersabda, “Akal kebanyakan manusia zaman itu dicabut, kemudian mereka dipimpin oleh orang-orang yang tak berakal, ke­banyakan manusia menyangka para pemimpin itu mempunyai pegangan, padahal sama sekali tidak demikian. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Hadits shahih.)

Hampir tidak ada satupun orang yang berilmu mengingkari adanya fitnah pembunuhan terhadap sesama muslim. Lihatlah konflik di Iraq, Afghanistan, Pakistan dan di negeri-negeri Timur Tengah lainnya. Biasanya konflik terjadi antara kaum Syi’ah Ekstrim dengan Sunni Ekstrim yang dipicu fitnah khowarij. Berdasarkan hadits di atas, saya bernasehat:

“Gunakan kembali akalmu, jangan mau dipimpin oleh orang (da’i-da’i) yang tidak mempergunakan (meremehkan) akalnya. Apalagi pemimpin (da’i-da’i) yang menyuruhmu meninggalkan akal agar tunduk pada ajaran-ajaran mereka (taklid buta). Banyak orang tertipu. Sekali lagi, banyak orang tertipu. Kebanyakan manusia menyangka para pemimpin itu punya pegangan (berperang di atas kebenaran, Al Qur’an dan Sunnah). Padahal sama sekali tidak demikian. Mereka memfitnah kaum selain mereka, menimbulkan permusuhan dan bersegera melakukan pembunuhan terhadap sesama muslim. Saya nasehatkan kepada kaum muslimin; mohon ditahan lidah dan tangan kalian dari saudara sesama muslim. Janganlah saling membunuh, hanya karena perbedaan-perbedaan yang tidak mengeluarkan kita dari Islam.”

 

Keluar dari Jama’ah Kaum Muslimin

Barangsiapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jama’ah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliyah. Barangsiapa berperang dibawah panji ashabiyah, emosi karena ashabiyah lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliyah. Barangsiapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslimin) lalu membunuhi mereka, baik yang shalih maupun yang fajir (jahat) dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukminin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya” [HR Muslim]

Jangan memisahkan diri dari Jama’ah Kaum Muslimin dengan embel-embel ashabiyah. Mereka bisa dikenali dari nama-nama mereka dan panji-panji mereka. Mereka tidak lagi menamakan diri muslim (kaum muslimin), melainkan nama-nama jahiliyah yang mereka ada-adakan. Mereka mudah tersulut emosinya ketika disinggung kebanggaan ashabiyahnya. (lihat: Saksikanlah bahwa kami adalah Kaum Muslimin) Sesungguhnya mereka bukan golongan Nabi (Kaum Muslimin) sekalipun mereka mengaku-ngaku sebagai golongan nabi atau bahkan karena kebodohannya menganggap sebagai golongan yang paling benar (selamat). (lihat: Firqatun Najiyah) Sesungguhnya kebanyakan manusia menyangka mereka punya pegangan (kebenaran, Al Qur’an dan Sunnah), padahal sama sekali tidak demikian. Ciri-ciri mereka adalah dipimpin orang-orang tidak berakal (logikanya rusak sehingga tidak mampu berfikir secara bijaksana) !!! (lihat tulisan: Pandangan Islam terkait Akal, Sombong: Pintu Neraka)

Salafi / Wahabi tidak perlu tersinggung. Lalu berkata bahwa saya (penulis) memahami hadits-hadits di atas secara serampangan tanpa ilmu, tidak ilmiah, tidak faham, tidak ada dasarnya, mengikuti akalnya yang bodoh dan ahlul bid’ah. Lalu saya diminta mencari ilmu dulu dari mereka yang punya pegangan kuat (Al Qur’an dan Sunnah) serta pemahaman yang benar (Manhaj Salafus Sholih). Jika ciri-ciri di atas tidak ada pada golongan kalian, maka janganlah bersikap ashobiyah dengan mengorbankan kehormatan saudaramu semuslim. Bukankah orang yang berkata tanpa dasar (ilmu) itu tidak baik? Bukankah golongan yang berada di atas kebenaran, tidak perlu ragu dan seharusnya bersikap tenang?

 

KHAWARIJ: Benih Perselisihan Kaum Muslimin

Dalam sebuah hadits shahih dalam Musnad (disebutkan). “Suatu hari Nabi melewati orang ini dalam keadaan sujud. Maka beliau menghampiri para sahabatnya. Beliau berkata : “Siapa yang mau membunuhnya ?” Abu Bakar mengiyakan, lalu bangkit dengan pedang terhunus. Kemudian beliau menghampiri orang itu, belaiu mendapati sedang sujud. Maka beliaupun kembali (tidak membunuhnya) seraya berkata :”Ya Rasulullah, bagaimana aku membunuh yang mengucapkan laa illaha illa Allah?”. Demikian juga yang dilakukan Umar. Kemudian Ali menyanggupinya, beliau bergegas ke sana, tapi orang tersebut sudah tidak ada lagi. Kemudian. Beliau bersabda : “Seandainya ia berhasil dibunuh, tentu tidak akan ada lagi dua orang yang berselisih di antara umatku”

Akan keluar pada akhir zaman suatu kaum, umurnya masih muda, sedikit ilmunya, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia. Membaca Al-Qur’an tidak melebihi kerongkongannya. Terlepas dari agama seperti terlepasnya anak panah dari busurnya”. [HR Bukhari & Muslim]

“Mencaci orang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kufur” [Hadits Riwayat Bukhari No. 48, Muslim No. 64]

“Janganlah kalian menjadi kafir sepeninggalku, yaitu sebagian kalian membunuh yang lain” [Hadits Riwayat Bukhari No. 121. Muslim No. 65]

Hadits-hadits di atas mencirikan kaum khawarij yang luar biasa dalam beribadah namun tidak memahami Islam dengan benar. Mereka tidak faham ‘kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama’ (seperti membunuh muslim tanpa alasan syar’i) serta kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama (seperti berhukum bukan dengan hukum Islam). Mereka suka mengkafirkan, bersikap keras terhadap sesama muslim dan mereka tidak akan segan-segan membunuhnya karena kaum khawarij bersikap ghuluw (berlebih-lebihan/ekstrim) dalam beragama. Mereka mengikuti ahli kitab yang sok tahu, memandang kaum muslimin salah padahal kebanyakan di antara mereka sendiri terbukti fasik (suka mencaci kaum muslimin). Ciri-ciri mereka masih muda dan ilmunya sedikit. Hadits di atas menjelaskan tentang buruknya kaum khawarij (bukan golongan lain!). Mereka menghadirkan mimpi buruk dengan membunuh Khalifah Ali serta membuat perpecahan dan permusuhan. Sampai sekarang, mereka tetap melakukan aksi-aksi bodohnya seperti terorisme dan lainnya. Maka jangan heran jika kebanyakan teroris hampir pasti berawal dari mereka dan du’at dari Nejd gemar sekali berseru dan saling tuduh khawarij di antara mereka sendiri. Dengan demikian, saran buat pemerintah yang ingin meminimalisir bahaya terorisme adalah mengajak kembali (taubat) gerombolan anjing-anjing neraka itu kepada jama’ah kaum muslimin. Jika mereka tidak mau (besar kemungkinan karena egoism dan kesombongannya) maka usir saja mereka dari Nusantara dan kembalikan mereka ke Nejd. Sesungguhnya negeri Arab akan segera kita perangi !

Arab Saudi akan diperangi dan Jazirah Arab akan kembali ke tangan Kaum Muslimin !!!

Tidaklah dunia akan lenyap sehingga negeri Arab dikuasai oleh seorang laki-laki dari ahli baitku (keluarga rumahku) yang namanya sama dengan namaku.’’ [Musnad Ahmad 5: 199 hadits nomor 3573 dengan tahqiq Ahmad Syakir, dia berkata,”Isnadnya shahih.”Dan Tirmidzi 6:485, dan dia berkata, "Ini adalah hadist hasan shahih.” Dan Sunan Abu Daud 11: 371]

“Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

Kita mungkin merasa aneh, mengapa Arab akan diperangi lagi oleh kaum Muslimin. Bukankah Islam berasal dari Arab? Bukankah penghuni jazirah Arab sekarang ini adalah kaum muslimin? Sebetulnya tidak aneh karena Rasulullah mengabarkan bahwa sumber fitnah dimulai dari Arab, dengan da’i-da’i yang juga bercirikan orang Arab. Bahkan yang memeranginya kemungkinan besar adalah bangsa timur dibawah pimpinan Imam Mahdi. (Mungkinkah militer Indonesia-Malaysia / Ahlus Sunnah yang mencintai Ahlul Bayt ???). Boleh jadi yang diperangi Al Mahdi dan pengikutnya berturut-turut adalah: Wahabi (Arab), Syiah (Persia-tapi tidak ada kata diperangi dalam hadits), Kristen (Rum) dan Yahudi (pengikut Dajjal). Hadits tersebut tidak ditujukan untuk penaklukan kita yang pertama, karena kaum muslimin tidak pernah mencapai kota Roma (hanya sampai Konstantinopel) dan belum memerangi dajjal. Lihat penjelasan hadits berikut:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Qubai. Ia menuturkan : “(Pada suatu ketika) kami bersama Abdullah Ibnu Amer Ibnu Al-Ash. Dia ditanya tentang mana yang akan terkalahkan lebih dahulu, antara dua negeri. Konstantinopel atau Rumiyyah. Kemudian ia meminta petinya yang sudah agak lusuh. Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab.” Abu Qubail melanjutkan kisahnya : Lalu Abdullah menceritakan : “Suatu ketika, kami sedang menulis di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba beliau ditanya : “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Rumiyyah?” Beliau menjawab : “Kota Heraclius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu”. Maksudnya adalah Konstantinopel”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah, Abu Amer Ad-Dani, Al-Hakim, dan Abdul Ghani Al-Maqdisi. Abdul Ghani menilai bahwa hadits ini hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadits shahih. Penilaian Al-Hakim itu juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.

Kata Rumiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibu kota Italia sekarang ini, sedangkan Konstantinopel adalah ibukota Byzantium (Romawi Timur). Sebagaimana kita ketahui, bahwa kemenangan pertama ada di tangan Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani. Hal itu terjadi lebih dari delapan ratus tahun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyabdakan hadits di atas. Semoga kemenangan kedua segera berada di tangan Muhammad bin ‘Abdullah Al Mahdi.

Kaum Muslimin harus bersatu dan berbaiat kepada Al Mahdi, baik sukarela maupun terpaksa. Apakah Al Mahdi berasal dari golongannya ataukah bukan. Apakah ia berwarga negara Arab ataukah bukan? Sebab sejatinya Islam bukanlah Arab. Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia. Kaum Muslimin tidak mengikuti bangsa Arab. Kaum Muslimin mengikuti Allah dan Rasul-Nya.

Selain alasan dari hadits-hadits shohih di atas, sebetulnya kaum muslimin juga punya alasan kuat untuk memerangi Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Mereka telah merusak perbendaharaan kaum muslimin (situs-situs Islam bersejarah) yang telah bertahun-tahun dijaga Salafus Sholih, kedzaliman dan pembunuhan kaum muslimin tanpa alasan (seperti menghukum/membunuh TKW yang membela diri/terpaksa/tidak sengaja membunuh ketika hendak diperkosa – hukum di KSA tidak mengenal perkosaan kecuali zina, jadi korban perkosaan justru dituduh pezina – sangat tidak adil dan tidak islami, penyiksaan TKI Muslim, penembakan demonstran muslim, dsb), dugaan keterlibatan KSA dalam memperkeruh krisis di Iraq, dugaan perilaku bejat para petinggi di sana dengan gaya hidup hedonisnya tanpa empati & mau peduli pada saudaranya di Palestina, serta alasan terkuat dugaan keterlibatan mereka dalam makar jahat Zionisme Internasional dari awal berdirinya Kerajaan sampai sekarang.

Boleh jadi, rakyat Saudi sendiri sekarang amat tertekan. Hampir mirip kondisinya sama rakyat di negeri manapun dibawah pemerintahan otoriter. Namun, semua itu tertutup rapat dan rahasia. Nah, bom sosial ini cepat atau lambat akan meledak. Apalagi jika menilik tanda-tanda yang ada sekarang. Tanda-tanda itu sangat jelas dengan gejala sosial perselisihan hebat dan gejala alam dengan banyaknya gempa. Maka tinggal menunggu waktu saja, mungkin sekitar beberapa tahun ke depan Al Mahdi akan diutus.

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa.  Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad)

Jika kita melihat realitas dengan jeli serta mau mencari informasi (dengan pikiran terbuka tentunya) maka terlihatlah bukti-bukti konspirasi itu dengan sangat nyata. Mereka membuat makar, sedangkan Allah juga sedang mempersiapkan makar-Nya. Maka, apakah konspirasi Yahudi dan orang-orang kafir itu dapat mengalahkan makar Allah? Jawabannya Tidak! Sekali-kali tidak! Mereka akan ditaklukkan, dalam waktu yang dekat !!! Oleh sebab itu, bersiap-siaplah wahai kaum muslimin, masa-masa kemenangan kita akan segera datang !!!

Bagaimana Solusinya?

“Ketahuilah bahwasanya bakal terjadi fitnah-fitnah (malapetaka)!” Kami bertanya: “Bagaimana jalan keluarnya wahai Rasululloh?” Beliau bersabda: “Berpegang teguh dengan Kitabullah, sebab di dalamnya disebutkan sejarah orang-orang sebelum kalian, dan khabar tentang yang akan datang setelah kalian, dan di dalamnya juga terdapat hukum terhadap perselisihan di antara kalian. Ia adalah pemisah antara hak dan bathil, dan sekali-kali bukanlah senda gurau. Barangsiapa mening-galkannya karena keangkuhan, niscaya Alloh akan membinasakannya. Dan barangsiapa mencari petunjuk dari selainnya, niscaya Alloh akan menye-satkannya. Ia adalah tali Alloh yang kokoh. Dan ia adalah bacaan yang penuh hikmah. Dan ia adalah jalan Alloh yang lurus.” (HR: Ahmad dan At-Tirmidzi)

Dari hadits di atas dapat diambil beberapa pembelajaran: Berpegang teguh dengan Al Qur’an, belajar dari sejarah masa lalu (khususnya fitnah & perselisihan yang menimpa ahli kitab), Al Qur’an adalah Al Furqan (pembeda), jangan sombong dengan meninggalkan Al Qur’an, & Allah akan memberikan petunjuk kepada kita melalui Al Qur’an. Sekali lagi, Allah akan memberikan petunjuk di zaman fitnah ini melalui Al Qur’an. Maka jadilah Ahlul Qur’an !!! Tidak hanya sekedar membaca tapi benar-benar memahami dan merenungi isi kandungannya sampai ke hati.

Kemudian, kesimpulan umum dari tulisan di atas adalah: “Berpegang teguhlah kepada Al Qur’an dan Sunnah !!! Berserah dirilah hanya kepada Allah dan mintalah petunjuk hanya kepada-Nya saja melalui Al Qur’an! Hanya Dia yang mampu memberikan petunjuk di zaman fitnah ini. Hindari semua firqah, apalagi yang diseru oleh orang-orang Arab dari Nejd (Hijaz) yang da’i-da’inya bergaul erat dengan penguasa, tidak berakal (memandang rendah akal), terlihat seperti punya pegangan padahal sama sekali tidak demikian serta bersifat tamak sehingga tidak tampak kebijaksanaannya !!! Bersabarlah untuk menunggu Al Mahdi beserta pasukan panji-panji hitamnya dari arah timur yang menegakkan khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah mengembalikan kejayaan kaum muslimin dan meluruskan fitnah-fitnah.

“Aku adalah manusia biasa yang mungkin benar dan mungkin pula salah. Oleh karena itu, hendaklah kamu memperhatikan dan meneliti pendapatku itu. Jika sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah maka ambillah, dan jika bertentangan dengan keduanya maka tinggalkanlah.”

Wallahu a’lam

n.b.: Hendaknya kaum muslimin bersikap bijaksana, tidak asal tuduh-menuduh tanpa bukti yang nyata. Boleh jadi yang dituduh lebih baik daripada yang menuduh. Bahkan, siapa tahu suatu kaum sudah bertaubat sehingga tidak layak diberikan tuduhan keji. Kemudian, mengapa dalam tulisan ini banyak menyebut golongan Wahabi / Salafy / Salafiyyun? Karena untuk membahas hadits-hadits di atas, firasat saya mengatakan bahwa orang-orang Salafi Wahabi akan cepat tersinggung dan marah. Soalnya KSA adalah negerinya Wahabi/Salafy.

Mari kita menjadikan ciri-ciri di atas sebagai introspeksi diri kita masing-masing. Maksud dari tulisan di atas adalah mengabarkan hadits-hadits terkait akhir zaman, khususnya fitnah dari Arab. Jika saya salah memahami hadits-hadits di atas, silakan beri komentar penjelasan dan maksud hadits-hadits tersebut. Namun jika Anda menafsirkan bahwa hadits-hadits di atas sengaja ditujukan dan sangat mirip dengan ciri-ciri pada kelompok Anda, kemudian Anda menuduh saya berdusta atau memfitnah maka mengapa Anda sendiri tidak segera meninggalkan firqah Anda? Apakah anda tidak berfikir? Anda sendiri yang menafsirkan bahwa hadits-hadits itu mengarah ke firqah anda. Sementara saya sendiri tidak berani mengarahkannya secara frontal karena siapa tahu mereka sudah bertaubat.

Sesungguhnya saya hanyalah pemberi peringatan (bahaya fitnah Arab) dan pembawa kabar gembira (akan datangnya Al Mahdi). Maka katakan kebenaran meskipun pahit, janganlah takut akan manusia, takutlah pada Allah !!!

About Nafis Mudrika

Cool and happy ^ ^
This entry was posted in Artikel Islam and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to FITNAH AKHIR ZAMAN DARI ARAB SAUDI !!!

  1. almahdi says:

    Nafis TUKANG NGACOW….LOE LUPA atau Pura2 Lupa? Bahwa PERSIA DAN ROMAWI AKAN DIBINASAKAN DULU….GOBLOK

  2. “Kalian perangi jazirah Arab dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian Persia (Iran), dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Rum, dan Allah beri kalian kemenangan. Kemudian kalian perangi Dajjal, dan Allah beri kalian kemenangan.” (HR Muslim 5161)

    Jika saya salah semoga Allah mengampuniku, dan jika engkau yang salah semoga Allah mengampunimu :)

    • sauzan says:

      jangan gunakan ijtihad anda dalam hal2 yg subhat..

      Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
      (QS. AN-NAHL : 125)

  3. mahdi says:

    musuh utama umat islam sekarang adalah syiah yg betaqiyyah mereka berada dikalngan kita secara taqiyyah kerana taqiyyah(pura pura) adalah salah satu syariat terbesar dalam ajaran syiah merka bertopengkan sunnah untuk menghancurkannya dari dalam oleh itu berhati hati.. dan sesiapa yg mendalami kitab2 syiah mereka akan mengnalinya walaupun mereka bertaqiyyah kerana golongan ini disebut secara jelas dalam hadith dan tidak samar2 seperti wahabi …wallahu’alam

  4. ruslan says:

    Aku tidak peduli golongan apapun yang penulis bawa pada artikel di atas, setahuku seorang muslim yang baik tidak membalas keburukan dengan keburukan tetapi membalas keburukan dengan kebaikan dan itulah yang membuat islam sampai hari ini ada, rosulullah mengajarkan itu kepada kita semua. Kalaupun ada saudara seagama kita yang memberikan kritikan kepada kita dan ia menukil perkataan Allah dan rosulnya maka tidak ada alasan bagi kita menolaknya, karena hanya itulah sumber islam yang dijamin kebenarannya. Perkataan ulama masing-masing golongan tidak Allah jamin kebenarannya, dan semoga Allah membimbing kita semua untuk berada di jalan yang lurus, jalan yang benar menurut Allah bukan menurut ulama-ulama dari golongan kita.

    • Sepakat. Lagi pula penulis juga belum tentu benar. Jadi, kalau ada yang tidak sepakat, silakan memberikan penjelasan yang lebih benar, tentu dengan dasar yang lebih kuat. Tapi kalau komentarnya hanya memperturutkan emosi, rasanya memang kurang baik menurut saya. :)

  5. alfan says:

    bismillah
    dari muhammad alfan hidayat kepada pemilik blog ini dan pihak2 yang berkomentar, saya haturkan Assalamu’alaika warohmatulloh wa barokatuh….

    perkenalkan, saya seorang hamba Allah yang ditakdirkan pernah bertemu dan berteman dengan pemilik blog ini,,,dan insya Allah saya masih menganggap saudara muslim ku nafis mudrika sebagai teman baik saya…dan saya mencintai nya karena Allah dan membenci nya karena Allah….karena itulah aqidah seorang muslim,,,al wala’ wal bara’.

    saya hanyalah seorang yang miskin ilmu dan masih belajar, tanpa pemikiran sendiri tapi mencocoki alqur’an dan assunnah dengan pemahaman salafusholih umat ini…

    saya nasihatkan utamanya kepada diri saya sendiri dan kepada pengunjung blog ini untuk menjaga lisan dan memberikan komentar yang membangun, berdasarkan Al qur’an dan sunnah dengan pemahaman salafus sholih…

    dan saya nasihatkan kepada diri saya sendiri dan pemilik blog ini untuk :
    1. menimbang segala sesuatu baik sebuah perkataan dan perbuatan baik secara dzohir dan batin dengan Al Qur’an dan sunnah,,,jika memang ingin membicarakan agama Allah ini. baik berupa aqidah, ibadah, mu’amalah dan akhlaq…
    2. ketahuilah, bahwa tiap ayat Al Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan nabi Muhammad menerangkan semuanya…ketahuilah pula, bahwa umat yang pertama menerima itu semua adalah para sahabat, merekalah salafus sholih umat ini yang utama selain tabi’in dan tabi’ut tabi’in. seperti dalam hadist nabi dengan lafadz : “sebaik2 manusia adalah pada masa ku, lalu setelahnya lalu setelahnya” au kama qola rosululloh, allahua’lam
    jadi timbanglah tiap ide dan amal dengan ayat al qur’an dan sunnah dengan pemahaman para sahabat. apa penjelasan rosul (berupa hadist) dari ayat al Qur’an itu… lalu apa kata para sahabat dari hadist Nabi itu dan bagaimana praktek para sahabat dari ucapan dan perbuatan Nabi tersebut…
    allahu a’lam

    dan tambahan : saya pikir mas nafis sangat tepat bila mengisi blog ini sesuai dengan pendidikan anda, sungguh bermanfaat bagi kami….tidak tentang agama….tidak dengan pemikiran anda sendiri yang berkaitan dengan agama

    • Wa’alaikumsalam wr wb

      Terima kasih atas nasehat yang baik. Tapi saya kurang sepakat dengan paragraf terakhir.

      بَلِّغُوْا عَنيِّ وَلَوْ آيَةٍ

      “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” [HR Bukhari dalam Shahihnya 3/1275, dari ‘Abdullah bin Amr Al Ash.] Menurut pendapat yang lebih ahli, perintah بَلِّغُوْا ballighuu khitobny (yang diajak bicara) adalah kepada kaum muslimin. Maka masing-masing individu kaum muslimin dikenai tanggung jawab untuk berda’wah menyampaikan ilmu sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Sehingga da’wah itu tidak hanya dipikul oleh satu atau dua pihak, akan tetapi dipikul oleh semua pihak, semua muslim dan muslimah sesuai dengan kadar kemampuannya masing-masing.

      Juga terdapat penekanan dalam berda’wah pada kata وَلَوْ آيَةٍ walau aayah. Maknanya yaitu di dalam menjalankan kewajiban dakwah tidak mesti harus ‘alim komplit, tidak mesti harus menguasai bidang ilmu yang ada baru kemudian berdakwah. Tapi kewajiban dakwah sudah terbebankan pada masing-masing pihak ketika kita sudah mempunyai ilmu walaupun cuma satu ayat, maka itulah yang dia sampaikan.

      Kemudian, jika ada orang yang menyampaikan ayat, namun dia salah menafsirkan atau memaknainya, atau bukan dari Rasulullah, bukankah sudah menjadi tugas saudara semuslim lain untuk meluruskannya? Yakni memberikan tafsir yang benar dari ayat yang disampaikan. Bukan mencaci atau mengancam dengan sesuatu yang tidak relevan dengan ayat yang disampaikan.

      Lalu, kalau kita tidak boleh berdakwah, bicara soal agama, dan harus ulama, apakah ini tidak berlebihan? Misal kita punya anak, lalu anak kita makan pakai tangan kiri, haruskah kita memanggil ulama untuk menasehati anak kita?

      Lagi pula, jika saya dilarang bicara soal agama, berkomentar soal agama, dilarang menulis soal agama, dilarang mengisi blog dengan artikel agama, dan hanya hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan saya, SUNGGUH ada orang yang mirip dengan saya, latar belakang pendidikannya bukan agama, setahu saya masih mahasiswa, setahu saya mengaku miskin ilmu dan masih belajar, namun berkomentar soal agama dalam blog ini. Termasuk menggunakan pemikirannya sendiri sebab ada kalimat “saya pikir”. Mengapa dan untuk apa?

      • alfan says:

        bismillah
        ya tentu saja boleh saudara ku, qt berdakwah kepada keluarga kita dan teman2 kita.
        dan alhamdulillah jika mas nafis telah mengetahui metode dalam menafsirkan Al Qur’an dan hadist Nabi….saya menantikan itu ada di blog ini…
        karena, di blog ini terdapat ayat Al qur’an dan Hadist2, tapi sangat banyak tulisan dari analisa mas nafis sendiri.
        saya bertanya :
        1. dimana penjelasan Nabi Muhammad terhadap ayat2 Al Qur’an (baik dalam artikel ini atau yang lain)?
        2. dimana penjelasan Para Sahabat terhadap hadist2 Nabi Muhammad tersebut?
        3. dimana penjelasan para ulama’ mufassirin terhadap ayat2 Al Qur’an dan hadist nabi tersebut? seperti Ibnu Katsir, syaikh As Sa’di dan para ulama’ lainnya?
        4. bagaimana kedudukan ulama’ di hati anda mas nafis?

        Sebagai info, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kita bagaimana metode dakwah yang benar. beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sesuatu yang paling penting dari yang penting yaitu tauhid. (lihatlah fase mekkah, beliau mengajarkan tentang Allah, kebesaran Allah, sifat rububiyyah Allah (dalam penciptaan, kepemilikan, pengaturan alam semesta ini), dan sifat uluhiyyah Allah ( bahwa hanya kepada Dia lah segala bentuk peribadatan diserahkan) sebelum diajarkannya sholat lima waktu, puasa, zakat, haji bahkan jihad yang syar’i).
        1.Lihatlah wahai saudara ku, keadaan saudara2 muslim kita. Mereka mengaku muslim, tapi mereka masih menyerahkan sesajen kepada penguasa laut selatan (menurut mereka), masih saja menyerahkan sesajen kepada penguasa gunung merapi ( menurut mereka), masih saja berdoa kepada orang2 sholeh yang telah mati, masih saja menggunakan jimat, masih saja mendatangi dukun,dsb yang secara tidak sadar mereka telah melakukan syirik besar yang menyebabkan mereka keluar dari agama tauhid ini….
        2.Lihatlah wahai saudara ku, keadaan saudara2 muslim kita. Mereka masih saja melakukan bid’ah dalam beribadah, melakukan praktek2 ibadah yang tidak diajarkan oleh Rosululloh dan dipraktekan para sahabat.
        bagaimana bisa Allah menurunkan pertolongan-Nya….
        jika memang mas nafis ingin mengisi blog ini berkaitan dengan agama, sampaikan yang paling penting ini (tentang bagaimana Tauhid dalam ibadah dan penting nya mengikuti sunnah dan menjauihi bid’ah ) dulu wahai saudara ku…sungguh umat lebih butuh tentang seperti ini….
        allahu a’lam
        sebagai renungan kita saudara ku…:
        dalam sebuah tafsir ayat surah al an’aam ayat 82 yang berbunyi….
        “alladzi na aamanu walam yalbisu imaanahum bi dzolmin ulaaika lahumul amnu wahum muhtadun” (yaitu orang2 yang beriman yang tidak mencampuri nya dengan kedzoliman mereka mendapat kan jaminan keamanan dan mendapat petunjuk)
        para sahabat bertanya tentang kedzoliman ini dengan bertanya : “ya rosul, siapa dari kami yang tidak melakukan kedzoliman sama sekali?”. lihatlah dari pertanyaan ini, para sahabat yang sudah dari lahir berbahasa arab mengerti seluk beluk bahasa ini masih bertanya kepada ulama saat itu yaitu Nabi…..lihatlah saudaraku…
        Nabi : “tidak seperti apa yang kalian kira, tidakkah engkau tahu ucapan orang sholeh (yaitu Luqman) (dalam surah Luqman ayat 13), kedzoliman itu adalah syirik”
        renungkan saudara ku…
        (silahkan lihat di tafsir ibn katsir juz 7 surah Al An’aam 82)
        allahu muwwafiq
        wassalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh

  6. wa’alaikumsalam wr wb.

    Sekali lagi menegaskan komentar pertama (bukan inkonsisten dengan komentar pertama), “Kita berdakwah sesuai dengan kadar kemampuan kita.” Kalau misal salah atau tidak lengkap tulisannya, ya mohon bantuannya untuk dilengkapi. Bukan menjadi orang yang gemar mencaci makanan namun tidak bisa memasak.

    Kedua, kedudukan ulama’ tentu sangat terhormat. Namun itu untuk ulama’ pewaris para nabi. Bukan ulama’ jahat seperti ulama’ yang mengekor penguasa. Pertanyaan, “bagaimana kedudukan ulama’ di hati anda?”, sebaiknya anda tujukan pada penulis blog berikut: http://fakta.blogsome.com/2008/01/11/abdul-hakim-abdat-pakar-hadits-indonesia/

  7. alfan says:

    semoga Kami dilindungi oleh Mu ya Allah dan mati dalam keadaan berada di atas Tauhidulloh, dan ittiba’ sunnah dan di jauhkan dari syirik dan bida’ah (secara dzohir, batin sedikit dan banyak)
    dan berani untuk ruju’ (kembali) kepada kebenaran dan tidak malu untuk berpaling dari kebatilan….
    Ya Allah, Yang mengajarkan Ibrohim ajari aku, Yang memahamkan Sulaiman fahamkan aku. Ya Allah ajarkan aku yang bermanfaat untuk ku dan berilah rizki untuk beramal di atasnya….

    aku ucapkan : Selamat tinggal saudaraku….

  8. Santoso says:

    Bismillah, Ikut share kalau salah silahkan diluruskan

    Assalamu’alaikum,

    Aku pernah ngaji dikit, disini aku coba tuliskan apa yang aku dapat..

    Di dalam Al-Qur’an pada ayat yang mengisahkan perjalanan Nabi Musa untuk berguru kepada Nabi Khidir. Alloh Ta’ala memilih kata “ittiba’” pada kata yang digunakan oleh Nabi Khidir. Sedangkan sama-sama kita tahu, Nabi Khidir tidak menjelaskan dasar hukum tindakan-tindakan beliau terlebih dahulu kepada Nabi Musa, melainkan beliau memerintahkan Nabi Musa untuk mengikuti dengan sabar tanpa bertanya apapun.

    Jelas sama-sama kita sepakati bahwa Alloh Ta’ala Maha Suci dari segala kesalahan. Dan pemberian definisi kata “ittiba’” disini pun tidak boleh kita Ingkari.

    Sedangkan pada masa sekarang ini kata “ittiba’”diartikan sebaliknya. Yaitu mencari dalil-dalil terlebih dahulu baru ber’amal.

    Sebenarnya mengenai masalah-masalah agama kita harus bertanya kepada para Ulama’. Karena beliau-beliaulah pewaris kenabian. Namun hanya Ulama’ yang luruslah yang boleh kita ikuti. Salah satu ciri Ulama’ yang lurus tersebut adalah yang berda’wah tanpa meminta bayaran dan tidak menyeru kepada golongan tertentu.

    para Ulama’ yang tidak memungut upah, da’i-da’i yang tidak pula memungut upah
    mereka berda’wah dengan bekal yang mereka persiapkan dari harta pribadi, tidak menunggu bantuan dana, dalam jalan demi tegaknya kalimat Ilahi

    Wallohu ‘alam.

  9. may says:

    Para pemuda pemudi islam..alangkah baiknya saling melengkapi,memperbaiki dgn dasar yg jelas. bukan opini apalagi cacian yg tdk baik dibaca oleh kawula muda yg mencintai islam. termasuk anak2 yg mencari banyak hal melalui media.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s