Pandangan Islam Terkait Akal


Ya Allah, bagimu segala puji. Dan bagi-Mu pula segala kesyukuran. Dan kepada-Mulah dikembalikan segala urusan. Dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maka hanya Engkaulah zat yang berhak dipuji dan disembah. Tiada Ilaah selain Allah. Kami memuji-Mu atas penciptaan kami yang sebelumnya tidak ada. Dan menjadikan kami umat yang adil dan pilihan. Dan Engkau telah menunjuki kami pada agama yang tidak ada kesamaran di dalamnya. Segala puji bagi-Mu yang telah memberikan hidayah kepada Al Islam yang sempurna. Dan Engkau telah memberikan kami pengetahuan kepada Al Hikmah dan Al Qur’an. Segala puji atas-Mu Ya Rabb. Kami tak bisa menghitung pujian-pujian atas-Mu maupun nikmat-nikmat dari-Mu. Kami memohon kepada-Mu agar senantiasa diberi petunjuk dan tidak disesatkan dari jalan kebenaran.

Sungguh mala petaka yang besar jika umat Islam tidak lagi mau berfikir dan meninggalkan akalnya dalam memahami Al Qur’an !!! Kemudian mereka meninggalkan Al Qur’an dan menggantinya dengan tafsir para gurunya yang tidak maksum. Lalu menyombongkan gurunya beserta dirinya sendiri. Mereka laksana kaum Yahudi yang meninggalkan Taurat lalu berpindah ke Talmud (kitab tafsir Taurat). Janganlah engkau menyerupai kaum Yahudi, jika engkau tidak ingin masuk ke dalam golongan mereka.

Padahal Rasulullah s.a.w., para sahabat dan para ulama’ senantiasa berfikir dan memahami Al Qur’an. Sungguh Al Qur’an adalah kitab yang diturunkan untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Dan Allah telah menyuruh kita untuk berfikir, memahami dan mengambil pelajaran dari Al Qur’an. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima/mengambil pelajaran. Dan mereka yang tidak mau mempergunakan akalnya tidak akan pernah mendapatkan pelajaran. Dan sungguh Al Qur’an itu adalah penjelasan yang sempurna. Dan Al Qur’an itu sudah dimudahkan agar orang-orang yang beriman merasa mudah untuk mengambil pelajaran. Maka perhatikanlah ayat-ayat berikut,

(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibrahim 52)

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (Shaad 29)

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al Hasyr 21)

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (Al A’raaf 176)

Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al Jaatsiyah 13)

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran(dari firman Allah). (Al Baqarah 269)

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar 9)

Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal. (Asy Syura 28)

Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. (Al Maidah 58)

Dan bahwasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah. (Al Jin 4)

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (Faathir 37)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al Jatsiyah 23)

Masih banyak ayat serupa dan sangat jelas dalam perkara ini. Kemudian penyebutan begitu banyak proses dan anjuran berfikir dalam al-Qur-an, seperti tadabbur, tafakkur, ta-aqqul dan lainnya. Maka kalimat seperti “la’allakum tatafakkaruun” (mudah-mudahan kamu berfikir), atau “afalaa ta’qiluun” (apakah kamu tidak berakal), atau “afalaa yatadabbaruuna al-Qur’ana” (apakah mereka tidak mentadabburi/merenungi isi kandungan al-Qur’an) dan lainnya.

Kemudian, kalau bukan dengan akal, dengan apalagi kita akan mengambil pelajaran? Apakah harus melalui perantaraan akal orang lain? Ujung-ujungnya, tetap saja kita akan memahaminya dengan akal (akal sendiri atau akal orang lain). Kemudian, bagaimana mungkin kita akan kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah jika kita tidak mau memahami keduanya? Bagaimana mungkin Allah akan meneguhkan kekuasaan pada kaum muslimin jika mereka jauh dari Kitabullah dan Sunnah lalu mereka menutup akal pikiran mereka? Bagaimana mungkin Allah akan memberikan surga jika kita tidak mau mengambil pelajaran dari Al Qur’an lalu mengamalkannya? Pikirkan semua itu wahai orang-orang yang masih punya akal !!! Bukankah syariat diturunkan buat orang-orang yang berakal?

Kita patut bersyukur karena Al Qur’an merupakan kitab yang sempurna. Kitab yang jelas dan tidak samar antara yang haq dengan yang bathil. Kitab yang terjaga. Kitab yang tidak akan ditemui kebathilan di dalamnya. Baik dari muka maupun dari belakang. Adapun orang-orang yang condong ke dalam kesesatan, mereka akan mengambil ayat-ayat mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah.

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali ‘Imran 7)

Ayat-ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah. Contohnya  adalah ayat-ayat tentang sholat, zakat, berbakti kepada kedua orang tua dan semacamnya. Hukum-hukum, kewajiban, larangan, dan semacamnya yang telah jelas. Sedangkan ayat-ayat mutasyaabihaat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib misalnya ayat-ayat mengenai hari kiamat, surga, neraka, sumpah Allah dan lainnya.

Orang Islam yang berakal pastilah mendapati akalnya yang terbatas. Oleh karena itu, mereka tidak akan berlebihan menggunakan akalnya dalam memahami Al Qur’an. Dia tidak akan mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah. Sebab sejatinya akal kurang dapat mencapai hal-hal ghaib, roh, maupun rahasia-rahasia Allah lainnya. Tugas mereka hanyalah mengimaninya, bukan memikirkannya untuk perkara-perkara semacam itu.

Akal kita juga tidak boleh mendahului Allah dan Rasul-Nya. Maksudnya dalil akal tidak boleh mendahului dalil syar’i dari nash-nash Al Qur’an maupun Sunnah yang Shohih.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Hujurat 1)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka” (QS Al-Ahzab : 36)

Jika ada yang tidak kamu ketahui maksudnya atau ayat-ayat yang seolah-olah bertentangan atau ayat-ayat yang dinasakhkan (dihapuskan) maka tanyakanlah pada yang berilmu (ulama) ; jangan mencari-cari takwilnya dengan akalmu tanpa ilmu pengetahuan.

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (QS Al Baqarah 106)

“maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS Al Anbiya 7)

Itulah Islam yang adil, jalan tengah yang tidak berlebihan. Dia bukan jalan kaum yang menutup akalnya. Bukan pula jalan kaum yang membebaskan akalnya secara liar.

Kemudian, ketakutan akan tersesat jika memahami Al Qur’an dengan akal adalah pendapat yang perlu dipertanyakan dasarnya. Sebab saya belum menemui ayat Al Qur’an maupun Hadits yang melarangnya. Orang yang berpendapat seperti ini takut jika orang terjebak hawa nafsu jika memahami Al Qur’an dengan akal. Mencari pembenaran dari Al Qur’an atas apa yang mereka lakukan. Bukankah pendapat seperti ini adalah hendak mencegah kemunkaran dengan cara mencegah kebenaran? Bukankah tidak ada kesamaran dan keraguan dalam Al Furqan yang sempurna? Bukankah hanya orang yang hatinya condong pada kesesatan yang mengikuti ayat mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah? Bukankah Allah telah memudahkan Al Qur’an untuk dijadikan pelajaran? Janganlah berlebihan karena Allah pasti akan memberi petunjuk pada orang yang dikehendaki-Nya. Dan manusia tidak dapat mencegah seseorang tersesat jika Allah menghendakiNya tersesat.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Dalam Surat Al Qomar diulang empat kali, yakni ayat 17, 22, 32, dan 40)

Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran. (Ad Dukhaan 58)

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (An Nahl 69)

Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al Quran). (Al Muddatstsir 55)

Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun. (Al Muddatstsir 56)

Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. (Al Mudatsir 31)

Tidak diragukan lagi, pendapat semacam itu berasal dari musuh-musuh Islam. Mereka telah menyusupkannya ke dalam pikiran saudara-saudara kita yang malang. Kemudian mereka dihinggapi kegelapan, keraguan dan kegelisahan karena menjauh dari Al Quran. Adapun menjauhkan akal dari umat Islam adalah fitnah dari musuh-musuh Islam. Mereka sejak dulu hendak menjauhkan umat dari Al Qur’an.

Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (Al An’aam 26)

Mereka hendak menjauhkan umat dari jalan kebenaran. Mereka hendak menjauhkan umat dari jalan kemajuan. Mereka hendak memecah belah umat dan menghancurkannya. Lalu mereka hendak menyombongkan diri dengan menolak kebenaran dari umat lain. Lalu menganggap diri mereka yang paling benar dan merendahkan kaum yang lain. Seolah-olah Allah sudah menjamin surga untuk mereka dan menghalalkan neraka untuk kaum yang lain. Sungguh Allah telah memasukkan wanita pelacur ke dalam surga hanya karena memberi minum seekor anjing. Dan Dia memasukkan seorang wanita ke dalam neraka hanya karena mengurung kucingnya hingga mati. Kita berlindung dari Allah dari para pelaku fitnah yang memusuhi umat Islam.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (An Nahl 90)

Seseorang yang mempelajari Islam dan Al Qur’an dengan benar, seharusnya akalnya tercerahkan. Nafsunya tunduk pada ayat-ayat Tuhannya. Hatinya menjadi tenang dan gembira. Akhlaqnya menjadi semakin baik dan mulia. Namun jika sebaliknya, akalnya gelap dan tertutup, jiwanya tunduk pada nafsunya, hatinya ragu dan gelisah, serta akhlaqnya semakin buruk saja, maka celakalah dirinya! Sebab Islam memang pelajaran yang menyeluruh. Mengangkat manusia dari keadaan gelap gulita menuju keadaan yang terang benderang.

Jika engkau mendapati kebenaran, pencerahan dan ketenangan hati dari tulisan di atas, maka sesungguhnya itu datangnya dari Allah. Namun jika sebaliknya, maka itu datangnya dari setan. Ambillah pendapatku jika sesuai dengan Al Qur’an dan Sunnah. Namun campakkan jauh-jauh ke dalam comberan jika menyalahi keduanya. Sungguh jika Allah hendak memberi petunjuk kepada seseorang, maka tak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan jika Allah hendak menyesatkan seseorang, maka tak ada seorang pun yang dapat menunjukinya.

 

Nafis Mudrika 2011

About Nafis Mudrika

Cool and happy ^ ^
This entry was posted in Artikel Islam. Bookmark the permalink.

One Response to Pandangan Islam Terkait Akal

  1. hendoko says:

    terimakasih banyak atas tulisanya, sangat bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s